Jakarta – PT PLN (Persero) menegaskan siap untuk merugi demi menambah rasio elektrifikasi, utamanya di kawasan Indonesia timur. Sebab, selaku Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PLN harus siap untuk melakukan penugasan pemerintah.

Direktur Utama PLN Sofyan Basir menyontohkan, baru-baru ini PLN telah menyediakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel di 1.000 titik yang terdiri pulau terluar dan perbatasan. Selain itu, PLN juga telah menerangi 380 Kepala Keluarga di Pulau Liran, yang merupakan titik barat daya terjauh Provinsi Maluku.

Dengan menerangi pulau tersebut, PLN mengaku kehilangan potensi pendapatan Rp48 juta setahun. Namun, angka itu jauh lebih kecil ketimbang pendapatan PLN yang bisa mencapai Rp320 triliun per tahunnya.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo juga memberi rapor bagus bagi PLN dari segi peningkatan rasio elektrifikasi. Ini terlihat dari minimnya masyarakat yang mengeluhkan ketersedian listrik tiap ia melaksanakan kunjungan kerja.

“Tiga tahun lalu, setiap saya pergi ke provinsi-provinsi baik Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, NTB, NTT, Maluku, Papua sama keluhanannya, listirknya kurang. Tahun ini saya muter lagi, saya tidak dengar lagi suara-suara itu, artinya kerja ngebut yang telah dilakukan PLN,” lanjutnya.

Sekadar informasi, pemerintah memiliki target rasio elektrifikasi sebesar 97 persen di tahun 2019 atau meningkat dibanding akhir 2014 sebesar 84,35 persen. Adapun hingga akhir 2016, rasio elektrifikasi Indonesia sudah mencapai 91 persen.