Tampaknya langkah itu diambil PLN sebagai tanggapan atau tindaklanjut dari keputusan pemerintah yang telah memutuskan untuk menunda penyelesaian proyek listrik 35 ribu megawatt (MW). Hal ini untuk menyesuaikan pasokan listrik dengan pertumbuhan ekonomi.

Nicke juga mengatakan, PLTG yang ditunda pembangunannya adalah bagian PLN dalam program 35 ribu MW, dengan kapasitas total 5 ribu MW.‎

Untuk diketahui, pada program kelistrikan tersebut PLN mendapat bagian membangun pembangkit dengan kapasitas total 10 ribu MW.

“Kalau kita lihat 10 ribu MW sekitar 50 persen, ya sisanya nanti kita lihat sesuaikan jadi sekitar 5 ribuan MW,” kata Nicke, di Jakarta, Kamis (12/10).

Nicke mengungkapkan, pembangkit yang ditunda pembangunannya berjenis peaker, dioperasikan hanya saat beban puncak saja untuk menjaga keandalan sistem. PLTG tersebut kebanyakan berada di Jawa, karena sudah cukup pasokan listriknya.

“Contoh PLTG di Jawa kita mundurkan proses pembangunannya karena pasokan di Jawa juga sudah cukup,” ujar dia.

Nicke menuturkan, pembangunan PLTG relatif cepat, hanya memakan waktu dua tahun. Jika kebutuhan listrik meningkat PLN bisa dengan cepat menyesuaikan pasokan listrik dengan melanjutkan pembangunan PLTG.

“Kebanyakan pembangkit porsinya PLN kita sesuaikan kita lihat pertumbuhannya di Jawa. Karena kalau gas juga cuma dua tahun membangun,” pungkasnya.