Lebih lanjut, Sofyan juga menuturkan kalau harga batu bara saat ini tengah mengalami tren kenaikan bahkan hampir menyentuh US$100 per ton. Akibatnya, beban perseroan membengkak. Sementara itu, tarif listrik tidak bisa naik. Ini mengakibatkan laba perseroan amblas dari Rp7,9 triliun pada semester I 2016 menjadi Rp2,3 triliun pada paruh pertama tahun ini.

“Kenapa laba turun? Tarif dikunci, biaya tidak terkendali dilepas, harga batu bara enam tujuh bulan ini naik. Tekanan biaya batu bara saja itu Rp10 triliun lebih,” kata Sofyan.

Sofyan mengatakan, saat ini ekspor batu bara mencapai 500 juta ton per tahun. Sementara, kebutuhan PLN hanya sekitar 80 juta ton per tahun untuk memotori sekitar 55 persen dari total pembangkit listrik saat ini.

Menurut Sofyan, Kementerian ESDM pada dasarnya telah menyetujui permohonan tersebut. Namun, keduanya saat ini masih membicarakan soal formula penentuan harga khusus yang disepakati. Pihaknya mengusulkan, perhitungan harga batu bara DMO berdasarkan biaya produksi plus margin sekian persen untuk penambang (cost plus margin).

“Pak Jonan sudah sepakat untuk harga batubara DMO lebih murah dari yang sekarang. Tinggal cari formulanya saja,” ujarnya.

Sofyan berharap, formula itu bisa segera diputuskan dalam waktu dekat.

Menteri ESDM Ignasius Jonan sebelumnya tidak menyetujui formula cost plus margin karena ada kemungkinan produsen batu bara meningkatkan biayanya untuk mendulang untung besar.