Jakarta, Triknews.net – Direktur Perencanaan Korpodat PT PLN (Persero), Syofvi Roekman,┬ámenuturkan kalau pihaknya mendukung pemerintah yang akan memprioritaskan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dalam rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL) 2018-2027. PLN mendukung target 50% kapasitas terpasang PLTU dapat terwujud pada 2020.

Syofvi mengatakan, PLN juga akan melakukan penambahan pembangkit juga disesuaikan dengan kondisi suatu wilayah. Seperti di Sumatra dan Kalimantan yang lebih cocok dibangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) karena banyak tambang batu bara.

Hal tersebut juga didukung dengan cara mengakuisi perusahaan tambang batu bara. Selain itu, PLN masih memikirkan harga khusus batu bara, meski skema cost plus margin telah ditolak oleh pemerintah.

“PLTU yang menggunakan batu bara juga menjadi salah satu fokus PLN karena lebih efisien,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (17/10).

Ditanya tentang adanya beberapa proyek PLN yang ternyata harus ditunda dan direvisi sesuai dengan perkembangan dan beban kekuangan PLN, Syofvi mengatakan bahwa setiap tahun proyek-proyek PLN tersebut memang harus direvisi.

Saat ini terdapat 773 MW yang telah beroperasi secara komersial (commercial operation date/COD) atau 2% dari total 35.000 MW. Kemudian, terdapat 15.266 MW atau 40% dalam tahap konstruksi fisik dan 10.255 MW atau 27% sudah terkontrak namun belum konstruksi. Sisanya, 4.563 MW atau 12% dalam tahap pengadaan dan 6.970 MW atau 19% dalam tahap perencanaan.

Tahun ini, PT PLN menargetkan 26.000 MW akan masuk dalam tahap konstruksi. Total pembangkit yang sudah melakukan financial closing mencapai 8.748 MW. Sedangkan yang masuk tahap konstruksi mencapai 9.563 MW. Proyek ini ditargetkan akan selsai hingga 5 tahun mendatang.

Ini belum termasuk dari 4.000 MW kapasitas empat pembangkit yang gorundbrekaing di Serang, dua pekannsolam, yaitu PLTU Jawa 7 2x 1.000 MW, PLTU Jawa 9 1.000 MW dan PLTU Jawa 10 1.000 MW.

Selama lima tahun terakhir, PLN telah menambah pembangkit sebesar 1.482 MW pada 2012, 2.138 MW pada 2013, 1.837 MW pada 2014, 2.150 MW pada 2015 dan 3.714 pada 2016.