Jakarta, Triknews.net – Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Noorsaman Someng, menyatakan bahwa tujuan rencana penyederhanaan golongan tarif listrik utamanya ada kebebasan di masyarakat pada golongan tarif tertentu untuk meningkatkan dayanya.

“Mungkin kalau dulu susah, karena keterbatasan daya, yang dimiliki PLN,” kata Andy dalam rilis kepada media di Jakarta, Jumat (17/11) .

“Dengan adanya penambahan kapasitas, lalu banyak dibangunnya pembangkit listrik, jaringan distribusi dan transmisi sudah semakin luas dan panjang, dan banyaknya substasiun yang sudah dibangun, tentu ke depan kebutuhan masyarakat akan meningkat terhadap listrik,” tambah Andy.

Selanjutnya, lanjut dia, kebijakan itu akan mendorong produktivitas masyarakat. “Ke depan, konsumsi listrik akan terus meningkat seiring peningkatan akses atau elektrifikasi dan pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Andy menjelaskan dengan ketersediaan listrik yang memadai dan tarif terjangkau, maka akan memberi manfaat jika dipergunakan untuk hal-hal yang produktif.

Hal itu dapat mendorong berkembangnya industri dan investasi. “Listrik bukan hanya untuk golongan tertentu dan hanya sebagai kebutuhan untuk menerangi rumahnya, tapi dapat digunakan untuk aktivitas yang lebih produktif. Dulu mungkin kita kekurangan daya, tapi sekarang sudah cukup. Selama konsumsi listrik dimanfaatkan sebagai alat produksi tidak ada masalah. Industri dan investasi berkembang karena listrik tersedia dengan baik, keandalannya lebih baik, harganya juga ‘affordable’ (terjangkau), masyarakat juga bisa menggunakan listrik untuk berproduksi dengan baik,” jelasnya.

Andy mengungkapkan, konsumsi listrik per kapita Indonesia masih berada di bawah negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.

“Selama 72 tahun kita merdeka, konsumsi listrik per kapita kita masih rendah, padahal kita sudah mampu. Malaysia sudah empat kali lipat dari Indonesia konsumsi per kapitanya, Singapura malah delapan kali lipat. Kita sudah ada listriknya, masa mau kita batasi lagi,” ujarnya.

Di samping itu, lanjut Andy, penyederhanaan golongan tarif juga telah dilakukan di beberapa negara tetangga. Brunei Darussalam, contohnya, membagi tarif tenaga listriknya ke dalam dua jenis, yakni A dikenakan bagi rumah tangga dan B untuk komersial/industri.

Sementara, Singapura menerapkan lima golongan tarif dan Timor Leste, untuk pelanggan yang menggunakan kWh meter, tarifnya dibagi dua golongan.