Pandeglang, Triknews.net – Paramadina Institute of Ethics and Civilization (PIEC) bekerjasama dengan United Nation Development Program (UNDP), Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta, kembali menggelar acara Pramuka Camp untuk yang kedua kalinya di Auditorium, Hotel Kharisma Labuan, Pandeglang, sejak hari Jumat (24/11) hingga Minggu (26/11).

Pramuka Camp yang kedua ini digelar setelah sebelumnya sukses dilaksanakan di Cansebu Ressort, Ciawi, Bogor, belum lama ini.

Selain Pramuka Camp, sebelumnya PIEC juga menggelar acara serupa berupa Training Karang Taruna, namun sasarannya para pemuda atau yang berjiwa muda yang ada di desa atau kelurahan.

Baik Pramuka Camp maupun Training Karang Taruna, merupakan bentuk best practice formula camping atau training baru yang digagas berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.

Untuk kegiatan Pramuka Camp yang mengangkat tema “Pramuka for Nationalism and anti-Extremism” kali ini, diikuti sekitar 70 anggota Pramuka (putra-putri) tingkat Penegak (usia SMA atau yang sederajat) dari sejumlah sekolah yang ada di Kota Serang dan Kabupaten Pandeglang, Banten.

Para peserta diambil dari berbagai latar belakang agama yang berbeda, baik dari agama Islam, Kristen, Hindu, dan Budha.

Direktur Program dan Riset PIEC, Sunaryo, menyatakan, kegiatan ini bertujuan untuk merevitalisasi gerakan Pramuka yang sebelumnya dinilai kurang menarik, sekaligus sebagai medium untuk membentengi anak-anak muda dari pengaruh ekstremisme-kekerasan.

“Kita dengan program ini punya rencana dua. Pertama, bagaimana merevitalisasi kegiatan Karang Taruna dan Pramuka yang bisa dibuat lebih menarik, lebih bermanfaat, sesuai kebutuhan anak-anak zaman sekarang, jaman milenial. Kedua, kita ingin memasukkan nilai-nilai dalam kegiatan camping Pramuka ini, materi-materi yang terkait dengan counter violence extremism, topik yang bagaimana anak-anak Pramuka bisa melakukan pencegahan, penolakan terhadap ajakan-ajakan sikap beragama yang ekstrem dan mengajarkan kekerasan. Itu alasan mengapa Pramuka Camp kita adakan untuk anak-anak muda hari ini,” kata Sunaryo saat ditemui di lokasi kegiatan, Sabtu (25/11) pagi.

Menurut Sunaryo, internalisasi nilai-nilai kontra kekerasan kepada para pemuda yang ada di ruang lingkup Pramuka menjadi penting, karena sekalipun mereka dianggap nasionalis dan patriotis, tetapi bukan berarti tidak mungkin mereka akan dipengaruhi dan disusupi radikalisme dan ekstremisme dalam beragama.

“Barangkali kalau secara kelembagaan, sistem pendidikan, sistem pelatihan yang ada di Karang Taruna dan Pramuka, itu pada dasarnya bisa memproteksi mereka dari sikap-sikap ekstremisme-kekerasan. Misalnya kita bisa lihat dalam sistem doktrin Kepramukaan dalam Dasa Dharma, kesetiaan terhadap Dharma dan seterusnya. Juga, praktek pelatihan mereka juga punya kegiatan-kegiatan khas Pramuka yang orang-orang atau kelompok ekstremis sulit masuk ke Pramuka, misalnya pada kegiatan api unggun. Itu barangkali kelompok-kelompok radikal akan sulit masuk. Tetapi itu bukan tidak mungkin bahwa anak-anak Pramuka tidak akan terinfiltrasi radikalisme,” tegas Sunaryo.

Potensi Pramuka terinfiltrasi radikalisme sangat mungkin, lanjut Sunaryo, karena mereka (pemuda-pemuda Pramuka) tidak hanya berada dalam ruang lingkup organisasi Kepramukaan saja, tetapi tak jarang mereka juga mengikuti organisasi yang lain.

“Kemungkinan itu tetap ada, karena anak-anak Pramuka juga aktif di organisasi yang lain. Ya kita nggak tahu mereka aktif di remaja masjidnya, aktif di Rohis, OSIS, dan seterusnya. Jadi bisa saja mereka tersusup oleh gerakan radikal,” dalihnya.

Sunaryo berharap, setelah para peserta selesai mengikuti Pramuka Camp, mereka tidak hanya terbentengi dari pengaruh radikalisme, tetapi juga bisa menyebarluaskan nilai-nilai anti-radikalisme itu di wilayah masing-masing.

“Kita justru ingin mendorong mereka supaya ide-ide Kepramukaan bebas dari ektremisme dan radikalisme yang nantinya bisa mereka sebarkan di sekolah masing-masing,” tandasnya.