Jakarta, Triknews.net – Direktur Utama PT PLN (Persero), Sofyan Basyir, mengatakan ada kemungkinan tarif listrik nasional bisa turun dari posisi saat ini pada 2019-2020 mendatang.

Kemungkinan ini bisa terjadi, karena dipicu oleh kebijakan baru mengenai klausul perjanjian jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) yang akan berdampak pada tarif listrik pada beberapa pembangkit baru yang beroperasi dua tahun lagi.

Sekadar informasi, tarif beli listrik PPA diatur dalam beberapa Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang terbit tahun ini. Untuk tarif beli listrik PLN dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) dipatok maksimal 85 persen dari Biaya Pokok Penyediaan (BPP) pembangkit listrik regional. Untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), tarif beli listrik dilakukan secara negosiasi jika BPP regional di bawah angka BPP nasional.

Dengan langkah itu, Sofyan berharap rata-rata tarif beli listrik PLN dari pengembang listrik swasta pada dua tahun mendatang bisa mencapai US$0,04 per Kilowatt Hour (KWh), atau menurun dari rerata saat ini sebesar US$0,06 per KWh hingga US$0,07 per KWh.

“Tarif listrik untuk tahun di atas 2019 dan 2020 mungkin bisa turun karena tarif beli dari IPP sudah murah, sehingga itu bisa menurunkan BPP,” ujar Sofyan, Rabu (29/11).

Meski demikian, ia agak sangsi jika tarif listrik bisa turun pada tahun depan. Sebab, PLN masih terdera tekanan atas kenaikan harga batu bara, mengingat 60 persen dari kapasitas pembangkit terpasang merupakan PLTU. Ia melanjutkan, tarif listrik mungkin bisa turun jika harga energi primer ikut melandai.

Kendati begitu, ia mengatakan tarif listrik pada 2018 tidak akan naik meski PLN harus menanggung beban. “Paling bagus memang turun, tapi kami pun ada beban. Kami memang sudah tekor besar, tapi lebih kasihan lagi masyarakat (jika harga listrik naik). Sehingga, mungkin tarif listrik (ke depan) paling mahal ya di angka saat ini,” ujarnya.

Untuk mengurangi beban, PLN juga berencana kembali melakukan efisiensi. Sayangnya, ia belum bisa menyebut target efisiensi yang akan dicapai tahun depan. Namun, sepanjang tahun 2017, perusahaan telah melakukan efisiensi sekitar Rp6 triliun hingga Rp7 triliun.

“Untuk tahun ini saja, kami telah melakukan efisiensi dari pengelolaan, efisiensi pembangkit murah, hingga menutup pembangkit mahal,” paparnya.

Sekadar informasi, ketentuan mengenai penyesuaian tarif listrik tercantum di dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 28 Tahun 2016. Di dalam ketentuan itu, terdapat 13 golongan pelanggan listrik yang sekiranya mendapat evaluasi penyesuaian tarif (tariff adjustment) dalam jangka waktu tiga bulan sekali.

Saat ini, tarif listrik untuk Tegangan Rendah (TR) masih dipatok Rp1.467 per KWh dan Rp1.352 per KWh (khusus pelanggan 900 VA non subsidi), Tegangan Menengah dipasang Rp1.114 per KWh, dan Tegangan Tinggi (TT) dipatok sebesar Rp996 per KWh.