Jakarta – Terorisme tidak bisa dibenarkan dan diindahkan. Apa pun alasan dan latar belakangnya, terorisme hanya mampu menciptakan kekerasan dan ketakutan banyak orang.

Teroris telah melakukan rangkaian aksi serangannya di berbagai negara, bahkan Indonesia juga pernah menjadi sasaran.

Pengamat Terorisme Al Chaidar meminta kepolisian untuk tetap waspada terhadap ancaman teroris di Indonesia mengingat masih belum dicabutnya pernyataan Presiden Amerika Donald Trump atas pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, bisa berdampak pada situasi keamanan di Indonesia.

“Potensi ancaman teroris sangat besar di Indonesia. Karena dengan pernyataan Donald Trump sangat berbahaya, apalagi pernyataannya didukung dengan beberapa gereja. Ini bisa membuat posisi mereka menjadi target,” kata Al Chaidar, hari ini.

Menurut Al Chaidar, pernyataan Trump tersebut membangkitkan sel teroris yang sebenarnya sudah tidur. Saat ini, kata Al Chaidar, potensi bangkitnya sel teroris dari simpatisan yang mendukung gerakan negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan Al Qaeda, akan bangkit lagi.

“Kalau dulu ISIS saja, sekarang dua-duanya,” ucap Al Chaidar.

Adapun untuk kawasan di Jabodetabek, Al Chaidar mengingatkan kepolisian agar mengantisipasi serangan teroris di kawasan Tangerang dan Bekasi. Karena, di kedua wilayah tersebut diduga banyak anggota kelompok teroris.

Lebih lanjut Al Chaidar menyarankan kepada aparat Kepolisian perlu mengamankan obyek vital, kantor polisi, kantor pemerintah, dan kantor partai politik. Untuk jenis ancaman yang paling berpotensi dilakukan teroris saat ini adalah pembakaran tempat tersebut.

“Jenis yang dilakukan adalah ancaman pembakaran,” ujar Al Chaidar.

Sementara itu, Sekjen Jari 98 Ir Arwandi melihat bahwa jaringan terorisme kini semakin luas dan mereka mengincar masyarakat yang memiliki pondasi pemikiran yang lemah dan mudah digoyahkan untuk dimanfaatkan atau dengan istilah cuci otak.

“Kejahatan terorisme merupakan hasil dari akumulasi beberapa faktor bukan hanya oleh faktor psikologis tetapi juga ekonomi, politik, agama, sosiologis dan masih banyak lagi yang lain,” kata dia.

Arwandi melanjutkan tidak bisa disalahkan bahwa jika terorisme dikaitkan dengan persoalan hak asasi manusia (Ham). Karena akibat terorisme banyak kepentingan umat manusia yang dikorbankan.

“Rakyat yang tidak bersalah dijadikan ongkos kebiadaban dan kedamaian hidup antar umat manusia jelas dipertaruhkan,” pungkasnya.