Jakarta – Forum Silaturahmi Takmir Masjid se Jakarta menyatakan dengan tegas menolak segala bentuk politisasi Masjid dan meminta dikembalikan lagi fungsi Masjid seperti semula yaitu tempat untuk beribadah kepada Allah SWT dan tempat untuk menyampaikan pesan-pesan suci agamaNya.

“Masjid harus menjadi sarana untuk mempersatukan umat bukan dijadikan sarana memecah bela dan memperuncing perbedaan,” tegas Koordinator Forum Silaturahmi Takmir Masjid se Jakarta Ustadz Muhammad Husni Mubarok, saat jumpa pers hari ini.

Lebih lanjut, Husni Mubarok meminta kepada seluruh elemen masyarakat untuk mendukung gerakan menjadikan Masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan menjadikan mimbar-mimbar Masjid sebagai media untuk menyampaikan dakwah atau ajakan menjalankan ajaran agama secara sejuk dan damai, menerima perbedaan dan saling menjunjung toleransi bukan caci maki, ujaran kebencian dan ajakan permusuhan.

“Mari sampaikan pesan-pesan dari ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Islam tidak menafikan gerakan politik yang dirajut dari masjid ke masjid, namun tentunya politik untuk kemashlahatan umat dan kebaikan bagi negara. Bukan sebaliknya, politik yang memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa,” bebernya.

Husni melanjutkan bahwa rasionalitas demokrasi di Indonesia sedang diuji. Bentuk ujiannya adalah munculnya paham-paham radikal keagamaan yang memanfaatkan ruang demokrasi untuk mendesakkan paham atau ideologi tertentu kedalam ruang publik yang lebih luas. Mereka berargumen bahwa apa yang mereka lakukan dianggap sebagai bentuk kebebasan berekspresi yang dijamin undang-undang.

“Maka menjadi wajar dan sah jika pola keberagamaan ditampilkan ke publik selama tidak melanggar undang-undang yang berlaku. Namun argumen ini hanya retorika mereka untuk mengelak dari tudingan sebagai kelompok yang anti demokrasi dan NKRI,” tuturnya.

Karena, kata dia, dalam keyataannya mereka menggunakan slogan-slogan dan simbol-simbol keagamaan dan tidak jarang dinyatakan dengan bahasa kebencian dan permusuhan terhadap pihak lain yang berbeda. Maraknya ceramah hasutan serta ujaran kebencian terhadap pemerintah dibeberapa masjid membuktikan semakin menguatnya paham agama yang berciri radikal dan membahayakan rasa persatuan dan kesatuan sebagai elemen bangsa yang multi etnis dan agama.

“Masjid yang sejatinya dibuat tempat beribadah kepada Tuhan dan dakwah-dakwah yang menyejukkan beralih fungsi menjadi ajang khotbah tentang kebencian dan permusuhan,” ucapnya.

“Tuduhan-tuduhan kafir, musyrik dan munafik terhadap paham yang berbeda mengindikasikan radikalisme agama telah menemukan momentumnya dalam ruang demokrasi tapi nir logika ini,” kata dia lagi.

Oleh sebab itu, tambah Husni, menjadi tugas penting negara dan masyarakat untuk mengikis habis sebelum tumbuh menjadi besar. Karena membiarkan duri dalam daging semakin lama akan membuat daging membusuk dan merusak sistem imun tubuh secara keseluruhan. Maksudnya adalah, setiap usaha dan upaya yang mencoba merongrong kedaulatan NKRI dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa harus sedini mungkin dicegah pun atas nama demokrasi.

“Karena dalam demokrasi yang sehat juga berlaku sistem amputasi jika ada anggota tubuh lain yang cenderung merusak,” tandasnya.