Triknews.net – Ulama Garut, Kiyai Raden Idad Ahmad Yasid Khudori menilai peran serta para santri, ustadz dan ulama dalam merawat kebhinnekaan dalam bingkai berbangsa dan bernegara sangat penting, apalagi antara pemerintah dan pesantren memiliki kaitannya yang sangat erat sekali.

“Pesantren dan kepemerintahan itu erat kaitannya. Karena di pesantren khazanah terkait kenegaraan dikaji, seperti kitab as-sultoniyyah dan lain-lain. Maka Pesantren wajib terlibat dalam mensukseskan demokrasi di Indonesia,” kata kiyai Yasid dalam keterangannya dalam diskusi pemuda bertemakan “Peran Pesantren Menjadi Uswatun Hasanah dalam membangun jabar yang bermartabat” di Pondok Pesantren Almubarokah, Desa Sukawening, Kecamatan Sukawening, Garut, Jawa Barat, Kamis (22/2/2018).

Apalagi di tahun politik yang berlangsung secara maraton di Pilkada 2018 yang digelar secara serentak, dan Pileg serta Pilpres 2019 yang digelar secara serentak pula. Kiyai Yasid juga mengingatkan peran pesantran menjadi bagian dari elemen yang mensukseskan proses demokrasi harus ditekankan lagi.

Namun demikian, ia mengingatkan jika proses demokrasi yakni pencarian sosok pemimpin dalam prosesi pemilihan umum harus berjalan dengan lancar, yakni tidak akan diisi dengan agenda-agenda provokatif yang justru mendistorsi persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara.

“Pesantren harus berpartisipasi demi memilih pemimpin. Namun tetap menjaga aturan-aturan yang berlaku agar tidak bersifat profokatif,” tuturnya.

Salah satu langkah yang konkret dapat dicapai dalam mensukseskan proses demokrasi tersebut adalah peran aktif ulama dan kiyai. Bagi Kiyai Yasid, para pemuka agama tersebut harus ikut mencerdaskan masyarakat yakni cerdas berpolitik, cerdas bersosial dan cerdas beragama.

“Para kiyai di pesantren harus memberikan pengertian kepada masyarakat terkait pemilihan umum. Realitas sekarang, masyarakat sekarang hanya tahunya sebatas ada uang dan benda di balik pemilu. Seolah-olah mereka hanya tahu dari pesta demokrasi tersebut adalah pesta pembgian uang geratis dan barang gratis,” ujarnya.

“Padahal jauh dari itu, secara idealna momentum pemilihan adalah memilih pemimpin yang akan memimpin masyarakat satu periode kedepan, yang akan menentukan regulasi dan kemaslahatan dalam satu periode tersebut,” tambahnya.

Ulama harus punya empat sifat

Bagi Kiyai Yasid, seorang ulama atau ustadz harus memiliki modal empat sifat utama yakni Siddiq alias benar ketika bersikap, Amanah alias mampu dipercaya, Tabligh alias dapat menyampaikan risalah dan dakwah yang tepat, serta Fathonah alias cerdas.

Jika pemuka agama memiliki empat modal sifat tersebut, maka dia akan mudah untuk membantu masyarakat ikut cerdas dalam bersikap. Apalagi dalam ranah agama pula, mencari seorang pemimpin juga diatur di sana.

“Saran dari saya, giring masyarakat kepada agama. Caranya belajar kembali pada pesantren ataupun pengajian-pengaian yang ustad nya terpercaya. Karena memilih pemimpinpun itu diajarkan dalam agama,” tegasnya.

Dengan pemahaman agama yang tuntas, ia meyakini tidak akan ada lagi masyarakat yang terprovokasi dengan agamisasi yang dipergunakan untuk kepentingan politik praktis oknum-oknum masyarakat.

“Lebih dari itu dari proteksi agama, masyarakat bisa paham terhadap sesuatu yang dapat merusak dan agama menjadi rambu untuk hal itu,” tambah Kiyai Yasid.

Pesantren jadi pelopor

Lebih lanjut, Kiyai Yasid mengatakan bahwa pesantren harusnya menjadi pelopor dalam persoalan politik nasional.

“Pesantren harus jadi konseptor dan pelopor, bukan mengekor. Menjadi pengais bukan pengemis. Perintis bukan pewaris. Menjadi penggerak bukan penggertak. Merangkul bukan memukul,” tuturnya.

Dan bahkan Kiyai Yasid mengatakan jika ada calon Kepala Daerah yang “sowan” ke pesantren agar tetap dibukakan pintu.

“Jika ada calon yang mau minta restu, sebetulnya bagus. Karena ini menjadi kesempatan bagi pihak pesantren untuk menyampaikan aspirasi-aspirasi,” kata Kiyai Yasid.

“Dan ketika sudah jadi, saya harap silaturahmi umaro ke ulama itu harus berlanjut, karena ulama bisa menjadi penasehat baginya,” tukasnya. (*)