MALANG, Triknews.net – Pembina Kampung Muslim Melbourne Australia, H Muhammad Yahya mengatakan bahwa munculnya gerakan radikalisme dan ekstremisme lantaran mereka sebetulnya tidak paham dengan agamanya.

Apalagi ditambah dengan maraknya gerakan dan organisasi kelompok garis keras yang semakin membuat mereka merasa menjadi mayoritas. Dua faktor inilah yang membuat gerakan mereka cenderung semakin masif baik dari gerakan fisiknya maupun latennya.

“Potensi radikalisme dan terorisme di Indonesia di pengaruhi oleh faktor – faktor yang signifikan terhadap rendahnya resestensi atas tindakan radikal, antara lain pemahaman agama yang cenderung legalistik, dan eksklusif dan hadirnya organesasi-organisasi garakan radikal,” kata Muhammad Yahya dalam sebuah diskusi bertemakan “Mencegah Faham Radikalisme dan Bahaya Terorisme Terhadap Generasi Muda-Terorisme Bukan Isalam, Islam Bukan Terorisme” yang digelar oleh Kesatuan Mahasiswa Malang Raya di Gedung Osman Masyur Lantai III Universitas Islam Malang, Jl. Mayjen Haryono No.193, Dinoyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Selasa (27/2/2018).

Ia mengatakan juga bahwa gerakan ini semakin berkembang biak lantaran sebuah dogma yang ditanamkan oleh kelompok mereka, bahwa ideologi merekalah yang paling benar, sehingga ideologi dan dan konsep kebangsaan dan kenegaraan yang ada termasuk di Indonesia harus ditiadakan, sehingga dengan cara apapun sekalipun dengan kekerasan mereka akan lakukan demi tegaknya ideologi mereka itu.

“Radikalisme ini merupakan sebuah gerakan individual kelompok yang ada di Asia yang mengatasnamakan bahwa ideologi adalah perubahan atau keyakinan teokratis, dengan tafsir sempit dan sepihak. Secara radikal dan brutal justru digunakan melakukan perbuatan radikan dan ekstrem,” tuturnya.

Muhammad Yahya juga mengingatkan bahwa apapun gerakan radikal tetap merupakan pelanggaran hukum yang harus ditindak secara tegas.

“Dalam negara demokrasi, radikalisme dapat menjadi faktor krimonogen, dimana cita-cita yang di yakininya diwujudkan melalui cara-cara kekerasan dan cara-cara yang melawan hukum,” ujarnya.

Untuk itulah, penanganan hukum yang ketat tersebut perlu dilakukan demi terjaganya perdamaian di kalangan bangsa dan ummat beragama.

“Pengaturan hukum terhadap bahaya radikalisme terutama yang di wujudkan melalui cara-cara kekerasan dan melawan hukum, menjadi relevan manakala pengaturan dimaksud bertujuan untuk melindungi keamanan dan perdamaian umat,” tutupnya. (ib)