JAKARTA, Triknews.net – Menggunakan masjid sebagai lahan agenda politik praktis memang merupakan hal yang cukup merendahkan masjid itu sendiri. Sebagai rumah Tuhan, sebaiknya masjid difungsikan untuk kegiatan keagamaan dan kegiatan keummatan yang bersifat mempersatukan ummat dalam ukhuwwah islamiyah, ukhuwwah wathoniyah dan ukhuwwah basyariyah.

Hal ini yang akan dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Islam cabang Jakarta Raya bekerjasama dengan pengurus masjid Jami Baiturrahman yang terletak di Jl H. Mading No.46, RT.6/RW.2, Kembangan Utara, Kembangan, Kota Jakarta Barat dalam wadah pengajian akbar di suasana Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Milad ke 71 pada hari Jumat (2/3/2018) pukul 13.00 WIB ba’da Shalat Jumat.

Dalam agenda itu, mereka akan menyampaikan dan mengajak kepada umat Islam untuk bersama-sama mengembalikan fungsi masjid sebagai mana mestinya.

Perbedaan sudah jadi Sunnatullah

Menurut mereka, seharusnya umat Islam tidak lagi memaksakan diri agar seluruh bangsa Indonesia harus seirama dan seaqidah dengan mereka. Hal ini lantaran di dunia ini sudah tercipta adanya perbedaan yang merupakan taqdir Allah SWT.

“Perbedaan merupakan sunnatullah yang memang tidak bisa dihindaki. Ketika Nabi Muhammad SAW meminta kepada Allah SWT untuk meniadakan perbedaan, Allah pun tidak mengabulkan permintaan tersebut,” kata mereka dalam rilis yang diterima wartawan, Kamis (1/3/2018).

“Perbedaan merupakan suatu keindaahan bilamana kita sebagai makhluk sosial hablum minannas dapat saling mengerti dan memahami,” imbuhnya.

Kemudian menurut mereka pula, perbedaan yang ada dan sudah menjadi sunnatullah tersebut telah berhasil dituntaskan oleh falsafah bangsa Indonesia yakni Bhinneka Tunggal Ika.

“Perbedaan di negara kita tercinta (Indonesia) sudah ada sejak jaman dahulu kala, dan itu berhasil disatukan dalam bingkai ‘kebhinekaan’ oleh para founding father kita,” ujarnya.

Jangan merasa paling benar

Perbedaan inilah yang seharusnya disikapi secara arif dan bijaksana oleh seluruh umat beragama yang ada, saling menghormati perbedaan masing-masing dan tidak mengganggu kebebasan beragama seseorang.

Namun sayangnya saat ini fenomena tersebut berbalik arah, dimana banyak golongan atau perorangan yang merasa paling benar sendiri sehingga menafikan perbedaan dan keberagaman yang sudah ada. Dan jika kondisi ini dibiarkan berlanjut justru akan membahayakan kebhinneka tunggal ikaan bangsa dan negera sendiri.

“Lebih parahnya perbedaan tersebut membawa antar warga untuk saling mempengaruhi dan saling hasut. Hal tersebut-pun bahkan terasa atmosfernya di tepat ibadah yang seharusnya menjadi tempat berhubungan antara makhluk dan penciptanya (Hablumninallah),” tegasnya.

Menyikapi semua hal itu, Himpunan Mahasiswa Islam cabang Jakarta Raya menggelar Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Milad mereka ke 71 dengan beberapa seruan kepada umat Islam, yakni menentang politisasi masjid dan mengembalikan fungsi masjid sebagaimana mestinya.

“Mengembalikan Masjid kepada khittahnya, karena Masjid adalah tempat beribadah, tidak ada politisasi dalam lingkungan Masjid,” serunya.

Kemudian mereka juga mengajak kepada seluruh umat Islam dan umat beragama lainnya agar senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan antar umat bangsa indonesia.

“Jadikan Masjid damai untuk menjaga persatuan dan kesatuan serta keutuhan NKRI,” tutupnya.