KUPANG, Triknews.net – Organisasi Kepemudaan (OKP) Cipayung Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) sepakat untuk mengajak seluruh bangsa Indonesia khususnya masyarakat di seluruh Kupang untuk saling menjaga persatuan dan kesatuan, salah satunya adalah tidak lagi ada upaya perpecahan atas nama konflik suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

“Saudara dan Saudariku sekalian, bangsa ini kuat, bangsa ini kompak, bangsa ini solid dan bangsa ini kokoh apabila seluruh elemen bangsa solid, kompak, kokoh dan memiliki komitmen yang sama dalam menjaga konstitusi bangsa,” kata Ketua Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Kupang, Syamsul A Rahman dalam orasinya di gedung DPD NTT, Kupang, Jumat (23/3/2018).

Suara yang sama juga digaungkan oleh Ketua Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Kota Kupang, Marko Gani. Dalam kesempatan yang sama, ia menyerukan kepada seluruh elemen bangsa Indonesia untuk saling memproteksi diri dari upaya masuknya kelompok-kelompok pengacau Republik dengan dalih SARA.

“Ini merupakan komitmen OKP Cipayung Kota Kupang dalam menjaga bangsa dari kelompok-kelompok ekstrimisme, radikalisme, dan terorisme khususnya yang berkembang di NTT dan umumnya berkembang di Indonesia,” kata Marko.

Ia juga menegaskan bahwa menjaga persatuan dan kesatuan antar bangsa Indonesia merupakan kewajiban bersama. Namun hal itu tidak akan terwujud jika seluruh elemen bangsa Indonesia tidak memiliki kesadaran bahwa SARA bukanlah hal yang perlu diperdebatkan dan tidak saling bersaing dengan konteks itu.

“Tentu dalam menciptakan tatanan bangsa yang harmonis sangat membutuhkan kesadaran bersama, bagi seluruh elemen bangsa tanpa harus mengedepankan identitas Suku, Agama, Ras dan Antargolongan,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Himpinan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kupang, Zainuddin Umar. Dalam orasinya, ia juga mengingatkan kepada seluruh bangsa Indonesia bahwa perbedaan adalah sebuah Maha Karya Tuhan yang untuk membuat bangsa Indonesia semakin kokoh.

“Perbedaan merupakan kekayaan dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, karena pada esensinya perbedaan adalah senyum keindahan anak bangsa,” tuturnya.

Bahkan ia juga mencoba menyadarkan kepada seluruh bangsa Indonesia, bahwa perbedaan yang dimiliki oleh Indonesia merupakan sebuah pondasi yang akhirnya dibuktikan oleh sejarah, dengan sekian puluh tahun Indonesia merdeka justru bermodal dari adanya perbedaan itu, namun memiliki tujuan yang sama untuk menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Sejarah telah mencatat bahwa segala dinamika kehidupan beragama dan berbangsa dapat disatukan dengan perbedaan, dan terbukti pada hari ini kita bisa berkumpul dan bersilaturahim atas dasar perbedaan,” tambahnya.

Terakhir, Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Kupang, Kristo M.T Kolimo menuturkan bahwa sudah seharusnya perbedaan yang ada membuat bangsa Indonesia semakin dewasa. Namun sayangnya akhir-akhir ini justru ada sekelompok orang yang mencoba untuk memecah-belah bangsa dengan cara memperkokoh egoistis bahwa golongan mereka lah yang lebih unggul.

“Bangsa ini pada dasarnya sudah semakin menua, namun ironisnya kedewasaan kita makin berkurang tentu sebenarnya adalah menuanya bangsa dan pikiran anak bangsa pun harus ikut dewasa,” kata Kristo.

Pun demikian, ia berharap besar agar ke depan tidak ada lagi perpecahan dan konflik yang hanya meruntuhkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dengan cara dan motif apapun. Bahkan ia juga berharap Kupang menjadi salah satu kota yang bisa dicontoh oleh daerah-daerah lain betapa pentingnya merawat perbedaan itu.

“Tentu segala perbedaan dijadikan sebagai titik dalam merawat keberagaman, karena komitmen kita adalah NTT merupakan lokomotif sekaligus akan menjadi representasi dari Nusa Tertinggi Toleransinya baik Nasional sampai pada dunia international,” tuturnya.

Dukungan Aparat TNI

Dalam kesempatan yang sama pula, Kasi Intel Korem 161 Letkol Inf. Bayu Sudarmanto menekankan agar deklarasi semacam ini tidak hanya sekedar menjadi buah bibir yang tidak ada realisasinya sama sekali. Ia mengajak kepada seluruh pengurus OKP Cipayung Kota Kupang untuk bersama-sama terlibat aktif dalam upaya mempersatukan bangsa Indonesia.

“Para pimpinan OKP telah menyampaikan beberapa hal diantaranya nilai-nilai Pancasila, namun jangan cuman diucapkan saja tapi harus dibuktikan dengan praktek dan perbuatan,” kata Kolonel Bayu.

Selain itu, Kolonel Bayu pun mengingatkan kepada seluruh OKP Cipayung Kota Kupang agar memperhatikan beberapa aspek ini yang dinilai merupakan bagian penting dari terpicunya perpecahan bangsa Indonesia.

“Ada beberapa hal yang memicu terjadinya konflik yakni, lemahnya SDM, lemahnya pemahaman agama, menurunnya tingkat kebudayaan, saling mengedepankan konflik dan kurangnya toleransi serta keharmonisan,” tuturnya.

Tidak hanya itu saja, Kolonel Bayu juga mengatakan bahwa untuk menangkal konflik di kalangan masyarakat, OKP Cipayung Kota Kupang bisa mencontoh taktik yang dilakukan oleh jajatan aparat keamanan seperti TNI maupun Polri. Yakni terus mensosialisaikan kebersamaan yang harmonis kepada masyarakat.

“Mengembangkan sikap toleransi antar umat beragama, menjaga kebhinekaan, dan mengembangkan program perdamaian (musyawarah) untuk mencapai mufakat (kesepakatan bersama),” tutupnya.

Dukungan Aparat Polri

Tampak senada dengan Kolonel Bayu, Wakil Direktur Binmas Polda NTT AKBP Dominicus Savio Yempormase juga menyampaikan bahwa pemuda memiliki peran penting dalam menjaga dan mensosialisasikan persatuan dan kesatuan dalam bingkat Bhinneka Tunggal Ika. Apalagi saat ini sedang memasuki tahun politik yang rentan sekali terpicu gesekan antar masyarakat.

“Polda NTT memiliki harapan besar bahwa Anda sekalian merupakan perpanjangan tangan dari polisi untuk menginformasikan kepada masyarakat demi terciptanya Pemilukada yang sehat dan damai,” kata Dominicus.

Kemudian untuk mengawal perhelatan akbar pesta demokrasi lima tahunan nanti, Dominicus menginformasikan bahwa jajaran aparat kepolisian akan dikerahkan semaksimal mungkin, sehingga potensi-potensi kerawanan dapat diantisipasi dengan baik.

“Polda NTT akan mengawal 21 Kabupaten. Dan situasi Pemilukada, Polda NTT akan mengerahkan seluruh kekuatannya yang terdiri atas 1.500 dari Markas Polda NTT dan 5.500 dari setiap wilayah dan daerah masing-masing,” tutupnya. (ibn)