BALI, Triknews.net – Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Buleleng, Parma menegaskan bahwa gerakan radikalisme menggunakan narasi “Jihad” sama sekali tidak dibenarkan. Menurutnya, jihad bukan melakukan tindakan teror dan radikal.

“Banyak orang yang telah salah mengartikan bahwa gerakan radikalisme yang menggunakan kata ‘Mujahid’ sebagai kedok untuk melakukan kekerasan berupa teror,” kata Parma dalam sesi seminar nasional dengan judul “Mewaspadai Gerakan Radikalisme dan Terorisme Yang Mengaku Sebagai Mujahid” di Gedung Dekopinda, Jl Udayana Barat, Buleleng, Singaraja, Bali, Minggu (25/3/2018).

Ia pun menyerukan kepada seluruh elemen pemuda khususnya di Buleleng agar terlibat aktif dalam menangkal paham radikalisme di sekitar mereka. Upaya ini dilakukan agar paham radikal dan tindakan terorisme dapat diminimalisir dengan baik.

“Kita sebagai pemuda dan mahasiswa harus meminimalisir gerakan radikal, terutama yang ada di Kabupaten Buleleng sehingga harus ada pemahaman yang benar agar gerakan radikalisme tidak berkembang,” serunya.

Selain itu, Parma juga mengingatkan agar seluruh pemuda dan Mahasiswa di Buleleng mengikuti gerakan-gerakan positif yang dapat meningkatkan kualitas diri dan membanggakan masyarakat, dibanding malah ikut gerakan separatis yang malah mengakibatkan mudlorot bagi orang lain.

“Masih banyak kegiatan yang lebih bermanfaat daripada mengikuti kelompok-kelompok yang radikal, sebaiknya para mahasiswa lebih fokus untuk belajar yang serius dan membesarkan organasasi seperti HMI agar lebih bermanfaat bagi bangsa dan negara,” tegasnya.

Lebih lanjut, Parma juga mengingatkan kepada seluruh generasi bangsa Indonesia secara luas agar mengedepankan rasa cinta tanah air dengan menjaga persatuan dan kesatuan dalam bingkai Pancasila dan NKRI.

“Kami menekankan kepada generasi muda agar tetap meletakkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Eka dalam melaksanakan kehidupan berbangsa dan bernegara dengan tetap mengedepankan rasa solidaritas dan persatuan demi keutuhan NKRI serta memajukan Bangsa dan Negara,” tutupnya. (ibn/dvd)