Triknews.net – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali, Haji Taufiq As’adi menekankan bahwa cara dakwah Islam adalah dengan kedamaian dan kesantunan. Jika ada orang berdakwah malah membuat orang lain ketakutan, itu bukanlah dakwah melainkan teror.

“Bahwa semua agama saling mengajarkan kebaikan, tidak ada satu agamapun yang mengajarkan penganutnya untuk menebar teror dan menyebabkan ketakutan di tengah-tengah masyarakat. Semoga peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi yang disebut teror tidak terjadi lagi di Indonesia khususnya di Kabupaten Buleleng,” kata Kiyai Taufiq di tengah-tengah Seminar Nasional berjudul “Mewaspadai Gerakan Radikalisme dan Terorisme Yang Mengaku Sebagai Mujahid” di Gedung Dekopinda, Buleleng, Bali, Minggu (25/3/2018).

Dengan dalih apapun, Kiyai Taufiq menegaskan bahwa terorisme sama sekali tidak dibenarkan. Bahkan ia menegaskan pula tindakan semacam itu merupakan perbuatan melawan hukum yang sama sekali tidak dibenarkan dalam konteks hukum syariat maupun hukum positif.

“Terorisme adalah perbuatan melawan hukum secara sistematis dengan maksud untuk menghacurkan kedaulatan bangsa dan negara dengan membahayakan bagi badan, nyawa, moral, harta benda dan kemerdakaan orang atau menimbulkan kerusakan umum atau suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas sehingga terjadi kehancuran terhadap objek vital yang Strategis, kebutuhan pokok rakyat, kebudayaan, pendidikan perekonomian, teknologi, perindustrian, fasilitas umum atau fasilitas internasional,” ujarnya mengutip pasal 1 UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Bahkan Kiyai Taufiq juga menuturkan bahwa dalam Islam, saling menghargai perbedaan dan pendapat manusia juga wajib untuk dilakukan. Pun terhadap orang selain satu aqidah dengan umat Islam juga wajib dihargai.

“Dalam lslam ada hak-hak yang harus dijaga, diantaranya hak untuk memillh, memeluk agama dan keyakinan. Dalam Alquran dikatakan, ‘Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu yang beriman semuanya. (QS : Yunus 99),” tuturnya.

Kemudian Ia juga mengingatkan kepada seluruh umat Islam untuk kembali memahami inti perjuangan Islam sendiri. Yakni sebuah risalah Islamiyah bahwa Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi alam semesta, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (QS : AI-Anbiya 107).

Apalagi semenjak negara Indonesia merdeka, ada 4 pilar yang ditinggalkan para pendiri bangsa yang wajib disyukuri oleh seluruh penerus bangsa Indonesia.

“Syukur Alhamdulillah kita sekarang telah mempunyai 4 (empat) konsensus yang penting; 1) Pancasila sebagai dasar bernegara, 2) UUD 1945, 3) Negara Kesatuan Republik Indonesia, 4) Bhinneka Tunggal lka,” ujarnya.

“lnsya Allah jika kita warga negara dan umat beragama yang baik, istiqamah dalam perjuangannya akan dapat mewujudkan keadilan, kemakmuran serta ketertiban dunia,” tutupnya.

Islam Mengajarkan Perdamaian

Dalam kesempatan yang sama, Tokoh Agama Kabupaten Buleleng, Haji Maksum Amin juga menuturkan hal senada. Ia menekankan bahwa Islam sama sekali tidak mengajarkan kebencian melainkan mengajarkan perdamaian.

“Islam pada dasarnya agama yang mengajarkan kepada manusia kedamaian dan kesetiakawanan, satu sama lain saling menghormati, membangun kesetiakawanan baik dalam seagama maupun penganut agama di luar agama yang dianutnya,” ujarnya.

Ia juga sangat tidak sepakat dengan cara-cara kaum Muslim Khawarij yang memiliki pemahaman takviri, dimana mereka menganggap orang lain yang berbeda keyakinan sekalipun itu sesama muslim.

“Faham keadilan Khawarij, salah satu yang sering menjadi pemicu dalam masyarakat adalah persoalan keadilan. Ikhwalul muslimin, khawarij mengkafirkan orang Islam yang tidak sefaham dengan mereka bahkan menghalalkan darahnya,” kata Kiyai Maksum.

“Terkait hal tersebut, Sayyid Quthub menggagas teori radikal mengkafirkan jahiliyah modern, rakyat diprovokasi membenci pemerintah. Penafsiran terhadap ayat suci Al Qur’an dimotori oleh mereka dan jika dilakukan oleh orang lain tentu sangat tidak benar,” tambahnya. (ibn/dvd)