Jakarta, Triknews.net – Paramadina Institute of Ethics and Civilization (PIEC) menggelar diskusi bulanan dengan tema “Menimbang Kontribusi Stephen Hawking terhadap Ilmu Pengetahuan dan Kemanusiaan” di Ruang Granada, Universitas Paramadina, Jakarta, Selasa (03/04/2018) siang.

Diskusi ini digelar untuk mengenang salah seorang fisikawan terakbar tersebut yang baru saja meninggal dunia pada Rabu (14/3/2018) lalu.

Pakar filsafat ilmu, Dr. Husain Heriyanto, yang menjadi pembicara tunggal dalam diskusi tersebut, memulai paparannya dengan menyoal mengapa Hawking begitu populer, bahkan terpopuler di abad ini, mengalahkan sejumlah ahli fisika teoritis lainnya seperti Max Planck (penggagas teori kuantum) dan tiga serangkai Niels Bogor, Heisienberg dan Schrodinger (pengembang mekanika kuantum).

Lebih jauh lagi, Husain menegaskan bahwa Hawking pada dasarnya banyak menyandarkan teori-teori ilmiahnya pada gagasan keempat tokoh tadi. Bahkan, meskipun keempat tokoh tadi sudah memenangkan hadiah Nobel yang Hawking sendiri tidak mendapatkannya, Hawking masih jauh lebih populer.

“Planck dan ketiga tokoh kuantum ini memperoleh hadiah Nobel sementara Hawking tidak,” kata Husein memaparkan.

Analisis Husain, keberhasilan ahli fisika teoritik itu dalam membangun “Perkemahan Kosmik Stephen Hawking” menjadi alasan mengapa dia begitu dikenal dan dihormati masyarakat dunia. Hawking dianggap mampu mengembalikan atau menghidupkan kembali peran ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk memahami alam semesta secara mendalam dan menyeluruh.

Persisnya, apa yang dilakukan Hawking, lanjut Husain, dengan sejumlah fisika teoritiknya dianggap sebagai gerakan “back to basic” dimana sebelumnya sains modern hanya diarahkan pada pola pikir instrumentalistik: kebenaran sains diukur sejauh bisa berguna untuk keperluan yang sifatnya material dan praktis.

Selain itu, alasan lain yang juga dikemukakan Husain mengapa Hawking begitu populer di dunia, karena dia bisa membahasakan teori-teori yang rumit dan kompleks ke dalam bahasa yang sederhana dan tentu mudah dipahami. Karya-karya tulisnya, sebut saja sepeti A Brief History of Time (1998), sangat laris di pasaran seperti larisnya buku-buku fiksi.

“Salah satu karakteristik keterampilan Hawking adalah kemampuannya memberikan penjelasan yang rumit, abstrak, dan kompleks topik-topik fisika teoritis dalam artikulasi yang menarik, naratif, jernih, dan sederhana tanpa kehilangan kedalaman arti,” tandas Husain.