Jakarta – Kandidat Ketua Umum DPP KNPI Haris Pertama menilai apa yang disampaikan oleh Sukmawati dalam puisinya yang dianggap kontroversi tersebut tak dapat dibenarkan dalam konteks sastra maupun budaya. Sastra itu harus punya dimensi estetika dan etika, namun puisi sukmawati jelas jauh dari estetika dan etika.

“Adzan dan Hijab Niqab (adalah dimensi syariah) bagi kami sebagai Muslim merupakan identitas simbolik yang tidak terpisah dan bagian dari Ibadah,” ungkap Haris Pertama, hari ini.

Menurut dia, subyektivitasnya adalah halusinasi yang menjadi konsumsinya pribadinya saja, bukan mengespresikannya didepan publik, apa lagi penilaiannya itu didasari ketidaktahuan, maka sungguh penilaiannya adalah logika fallasi (kesalahan berpikir), sebagai anak proklamator mestinya sukmawati lulus dalam diskursus kebangsaan dan ke Indonesiaan.

“Apalagi beliau adalah anak Proklamator Bangsa Ir. Sorkarno yang sangat mengagungkan Islam dan menjadikannya sebagai spirit perjuangan,” ujar Ketua Presidium Komite Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Kamerad).

Dia melanjutkan sebagai anak muda dirinya berharap Sukmawati membuka diri dan meminta maaf, dan mengajak semua pihak untuk menjaga keutuhan dan terjaminnya ekspresi publik secara etis, estetis, dan demokrasi.

“Ekspresi publik adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan, namun ekspresi publik tanpa nalar justru akan merusak bangunan Kebangsaan yang telah dijahit oleh Bung Karno,” tandasnya.