Jakarta – Aktivis Islam Nanang Qosim mengaku sependapat dengan ajakan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Ma’ruf Amin yang meminta umat Islam agar bisa menerima permintaan maaf Sukmawati terkait puisi kontroversialnya. Selain itu, Kyai Ma’ruf meminta agar tidak lagi menghujat dan menghentikan gugatan yang dialamatkan putri Presiden pertama Soekarno.

“Kami sependapat dengan ajakan Kyai Ma’ruf agar umat Islam bersikap bijak memaafkan Sukmawati,” ungkap Nanang Qosim, hari ini.

“Demi membangun dan memperkuat ukhuwah wathoniyah, kami mengajak semua pihak untuk tidak menyoalkan kembali masalah ini ke jalur hukum,” kata dia.

Kendati demikian, Nanang berpesan kepada Sukmawati dan lainnya agar peristiwa ini dijadikan pelajaran agar tidak terulang kembali. Dia berharap agar menyampaikan puisi-puisi yang membangun, menyejukkan dan memberikan optimis kepada generasi muda.

“Seharusnya sebagai anak Proklamator, Ibu Sukmawati bisa menjadi negarawanan yang baik. Bukan membuat gaduh suasana, sebaiknya jaga nama baik orang tua,” tuturnya.

“Sampaikan puisi yang mengedepankan norma hukum, agama, kesantunan, kepatutan dan saling menghormati satu sama lain,” kata Nanang lagi.

Dia juga mengingatkan agar Sukmawati bisa menghormati orang tua nya Soekarno sebagai pendiri Bangsa Birrul Walidain adalah bagian dalam etika Islam yang menunjukan kepada tindakan berbakti (berbuat baik) kepada kedua orang tua.

“Berbakti kepada orang tua ini hukumnya fardhu (wajib) ain bagi setiap Muslim. Bercerminlah kepada orang tua yang menyatukan bangsa dalam berekspresi jangan kebablasan,” sebutnya.

Pembina Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) itu menghimbau kepada semua pihak untuk meniru pendahulu bangsa agar jika ada persoalan bisa kedepankan upaya dialog-dialog untuk mencari titik temunya.

“Demi menjaga keutuhan bangsa, mari kedepankan upaya dialog dan dinginkan suasana. Sebagai orang bijak, jika Ibu Sukmawati merasa tidak tahu maka pilihannya adalah dituntun bukan dituntut,” tukasnya.