Triknews.net – Pengurus Dewan Mahasiswa Universitas Negeri (UIN) Mataram bekerjasama dengan Kepolisian dan Danrem mengadakan Seminar radikalisme. Dengan tema “Peran mahasiswa dalam menangkal radikalisme dan menjaga keutuhan NKRI di Mataram NTB”, agenda yang digelar di auditorium UIN Mataram tersebut mendapatkan respon yang sangat positif dari Mahasiswa di sana.

Menurut Ketua Dewan Mahasiswa (DEMA) UIN Mataram, Rupawan mengatakan bahwa agenda tersebut digelar sebagai bentuk upaya untuk memberikan penyadaran bagi kaum muda khususnya Mahasiswa untuk tidak terjebak dalam paham dan gerakan radikalisme.

“Tujuan acara ini, agar mahasiswa melalui kemampuan akademisi mampu melawan aktivitas radikalisme. Semoga setelah kegiatan ini Universitas Islam Negeri Mataram menjadi tameng utama dari faham-faham radikalisme, sehingga kita bisa menjadi agen pemersatu Indonesia,” kata Rupawan dalam sambutannya, Kamis (19/4/2018).

Ia juga mengatakan walaupun dalam doktrin yang dibentuk kelompok radikal tersebut adalah jihad fi sabilillah, ternyata narasi tersebut adalah kebodohan dan pembohongan. Ia bahkan menilai gerakan radikalisme dalam bentuk apapun sama sekali tidak mencerminkan wujud Keislaman sama sekali.

Namun sayangnya narasi negatif tersebut justru sudah berhasil menarik minat Mahasiswa untuk mengamini paham tersebut. Rupawan mengatakan untuk itulah kegiatan semacam ini digelar sebagai bentuk upaya penyadaran dan pemahaman bagi generasi muda Indonesia untuk tidak mudah terjebak dalam situasi dan narasi yang dibentuk oleh kelompok radikal itu.

“Pemikiran yang demikian saya anggap perlu ada antisipasi sebelum idiologi radikalisme ini benar-benar merusak idiologi mahasiswa, yang justru akan berpotensi terjadi rusaknya NKRI,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Direktur Bidang Intelijen dan Keamanan (Intelkam) Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) AKBP Rade Mangaraja Sinambela. Ia menyampaikan bahwa orang-orang yang memegang paham radikal dapat dilihat dengan beberapa ciri yang cukup menonjol. Salah satunya adalah rasa intoleransi yang sangat tinggi terhadap sekelilingnya yang tidak sama dengan dirinya.

“Pertama, intoleransi atau tidak mau menghargai orang lain. Kedua, Fanatik atau menganggap bahwa sendiri lebih benar. Ketiga, Ekslusif yakni memebedakan diri mereka dari yang lain. Dan terakhir keempat adalah Revolusioner atau menggunakan cara-cara kekerasan demi mencapai tujuan mereka,” kata AKBP Rade M Sinambela.

Dari empat ciri tersebut, ia mengatakan bahwa Polda NTB akan terus mengajak mahasiswa untuk ikut terlibat dalam menjaga keamanan dan ketertiban nasional khususnya menangkal paham dan gerakan radikalisme di manapun dan kapanpun, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Terakhir yang saya sampaikan adalah saya mengajak seluruh mahasiswa untuk menjaga keutuhan NKRI,” serunya.

Sementara itu, Dandim 1608/Bima Letkol Czi Irawan Agung Wibowo dalam kesempatan yang sama juga menilai, bahwa penyebab munculnya radikalisme itu adalah karena faktor ideologi, politik, ekonomi, dan sosial budaya.

“Jadi jangan beranggapan radikalisme hanya karena ideologi saja. Untuk Indonesia, isu itu yang paling menyulut rasa marah. Isu paling mudah membuat murah di Indonesia itu isu agama, dari isu apapun dia, ekonomi apapun, budaya apapun, tapi kalo sudah agama ya mudah disulut, dan dia akan lansung menimbulkan amarah,” tegasnya.

Maka dari itu, ia pun memberikan wanti-wanti kepada seluruh Mahasiswa dalam kegiatan DEMA UIN Mataram tersebut untuk ikut serta aktif dalam melawan terorisme, dan berharap nantinya akan ada tindak lanjut.

“Kepada mahasiswa UIN Mataram, terutama BEM-nya yang membantu Pemda, untuk melawan terorisme. Namun tidak sampai disini saja, harus ada tindak lanjut lain,” ujarnya.