Bima – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram Prof. Dr. H. Mutawali, mengajak semua pihak untuk membantu pemerintah dalam menetralisir paham-paham yang menciptakan ketidakharmonisan di tengah masyarakat.

“Kita harus bersatu menjaga NKRI dengan menetralisir paham yang menciptakan ketidakharmonisan ditengah masyarakat,” ungkap Mutawali dalam Seminar Nasional “Islam Bukan Teroris: Peran Pemuda Dalam Mewaspadai Ideologi Radikalisme yang Menggatasnamakan Agama”, yang diselenggarakan di Wisma PGRI Gomong, Mataram, NTB, Senin (23/4/2018) pagi.

Dalam kesempatan tersebut, Mutawali menegaskan bahwa NKRI terdiri dari bermacam suku, agama dan budaya, yang bersatu membentuk Negara Indonesia. Oleh sebaga itu harus terus tetap bersatu dan tetap dijaga. Menurutnya, Islam moderat tidak ke kanan dan ke kiri.

“Adat yang baik adalah yang memberikan kebaikan untuk semua orang. Dan Islam adalah agama yang mengajarkan saling memahami dan tidak boleh memaksakan sesuatu yang ada di masyarakat tersebut,” bebernya.

Terkait HTI (red. Hizbut Tahrir Indonesia), Mutawali meminta para hadirin agar melihat tokoh utamanya. Jika HTI ingin mendirikan khilafah, berarti mereka tidak konsisten mengusung konsep khilafah, karena khilafah buka merupakan unsur ketuhanan. Oleh karena itu, Mutawali menghimbau agar para hadirin konsisten menjadi orang yang Islam.

Pada sesi tanya-jawab, Mutawali menjawab pertanyaan salah seorang peserta dengan menjelaskan bahwa teroris memiliki jargon, “Allah Tuhan kami, mati di jalan Allah adalah cita-cita kami”. Dengan jargon itu, mereka berkembang menjadi gerakan bunuh diri, karena menurut mereka, mati atau membunuh orang akan masuk sorga.

“Cara berpikir demikian mempengaruhi pemikiran seseorang dimana ideologi mereka sudah tertanam,” pungkasnya.