Jakarta – Paham atau keyakinan akan datangnya sang penyelamat di akhir masa (mesianisme) merupakan fenomena global yang bukan monopoli agama-agama semitik-abrahamik (Yahudi, Kristen dan Islam) semata, tetapi juga ada dalam agama bumi, bahkan juga dalam struktur budaya dan politik. Sosok Ratu Adil atau Imam Mahdi misalnya, merupakan sosok figuratif dari keyakinan akan datangnya sang mesias itu.

Setidaknya bahasan inilah yang mengemuka dalam seminar publik bertema “Mesianisme dalam Tradisi Agama dan Budaya” yang diselenggarakan Paramadina Institute of Ethics and Civilization (PIEC) di Auditorium Nurcholis Madjid, Universitas Paramadina, Selasa (08/05) siang.

Dari kacamata budaya, Prof. Dr. Abdul Hadi WM menyatakan bahwa keyakinan akan datangnya mesias itu terkait dengan merajalelanya kejahatan di muka bumi. Dia menyitir satu kitab berjudul Risalah Seribu Masalah karya Syaikh al-Silabisi yang ditulis di Aceh pada sekitar awal abad ke-17. Menurut kitab ini, cerita Hadi, tanda-tanda akhir zaman dimulai dari merajalelanya Dajjal dan Yajuj Ma’juj yang berlaku jahat.

Dajjal itu, katanya, akan muncul di Isfahan (Irak); di lembah Mesopotamia. Dia mengendarai satu keledai yang bisa menyeberangi lautan. Di sebelah kanannya, ada para pengikutnya yang kebanyakan orang Yahudi. Sementara di sebelah kirinya merupakan orang-orang yang tidak percaya kepadanya dengan kondisi disiksa.

Menurutnya, penjelasan ini merupakan gambaran rill masyarakat saat ini. “Gambarannya yang terjadi di Timur Tengah searang ini sudah menunjukkan hal itu,” katanya.

Selain itu, Hadi juga menjelaskan bahwa dalam eskatologi Hindu, mesianisme itu dikaitkan dengan ajaran Waisnawa, tentang turunnya Kalki, titisan Wisnu yang kesembilan dan juga titisan Siwa yang kesepuluh.

“Raja Jawa yang dikatakan titisan Wisnu di antaranya adalah Airlangga sebelum Joyoboyo yang menyelamatkan raja Jawa dari kehancuran. Ada juga Pengeran Deponegoro, penjelmaan Ratu Adil yang menyelamatkan Jawa dari kolonialisme Belanda. Dan pada abad ke-20, Ratu Adil itu juga muncul dalam sosok Tjokroaminoto. Dia dianggap sebagai penjelmaan Ratu Adil dalam gerakan kebangsaan di Indonesia,” ujarnya.

Kalki tersebut, kata Hadi, digambarkan sebagai sosok yang mengendarai kuda putih. “Tidak tahu kuda putihnya seperti apa,” tambahnya.

Agak berbeda dari Hadi, Dr. Phil. Fitzerald Kennedy Sitorus melihat mesianisme dari kacamata filsafat. Dia menyatakan kalau mesias sebagai istilah berasal dari tradisi relegius Judeo-Kristen, yakni dari bahasa Ibrani yang berarti “yang diurapi”, “yang dipilih” oleh Tuhan untuk menyelamatkan manusia. Tetapi kemudian, ia digunakan secara generik untuk menandai setiap paham mengenai datangnya seseorang yang diutus Tuhan untuk menyelamatkan manusia.

Menariknya, kata Sitorus, mesianisme tidak terbatas pada agama-agama langit, tetapi juga terdapat pada agama-agama historis, zoroaster, hinduisme, budhisme. Dan penelitian-penelitian antropologi, juga memperlihatkan bahwa banyak sekali paham mesianis yang ditemui dalam sejarah. “Di kepulauan Melanisia, Papua, Eropa, Brasil, juga Afrika, selalu muncul paham-paham mesianisme,” ujarnya.

Mengapa manusia membutuhkan mesias? Apa pra-kondisi yang memugkinkan munculnya keyakinan itu? Munculnya paham itu tidak terlepas dari pengalaman negatif yang dialami oleh kelompok-kelompok suku tertentu. “Entah itu penjajahan, penyakit menular, malapetaka, kemiskinan, yang kemudian mereka mengharapkan datangya seorang juru selamat untuk menebus atau menyelamatkan mereka dari pengalaman negatif itu,” katanya lagi.

Sitorus juga menyatakan, meski merupakan fenomena global, tetapi mesianisme yang paling kental itu ada pada bangsa Yahudi. “Itu bisa ditelusuri sampai pada saat mereka ditawan di Mesir. Dan Musa (Moses) datang menyelamatkan mereka. Karena itu, Musa juga diangkat sebagai mesias pada saat itu,” tegasnya.

Sebagai paham, Sitorus memberikan distingsi yang jelas antara mesianisme eskatologis-apokaliptik (relegius) dengan mesianisme sosial-politis. “Mesianisme eskatologis mau meyelamatkan manusia dari dunia ini, karena sudah sedemikian penuh dengan kejahatan, lalu menghancurkan dunia ini dengan cara membentuk dunia yang baru. Sementara mesianisme politis mau meyelamatkan manusia di dunia ini dengan cara mengubah struktur-struktur politik lama yang dirasa menindas, tidak adil. Lalu mencipta struktur sosial politis yang baru yang diharapkan bisa merealisasikan harapan-harapan masyarakat.”

Dari perspektif filsafat perennial, Subhi Ibrahim, M.Hum, menyatakan bahwa kata kunci yang dieskplorasi dalam filsafat perennial tentang mesianisme atau mahdihisme adalah “manusia suci” yang dalam tradisi tasawuf disebut dengan “insan kamil”.

Mahdi, dalam pandangan filsafat perennial—setidaknya itulah yang didengungkan Titus Burckhardt dan Sayyed Hossein Nasr—adalah manusia universal (the universal man). Di sini Subhi kemudian memberikan distingsi antara the universal man dan the fallen man (manusia yang terjatuh).

Dalam tradisi Islam, kata Subhi, manusia disebut mkhluk yang terjatuh. Itu terjadi ketika Adam terusir dari surga. Dalam drama kosmik ini, jatuhnya Adam digambarkan sebagai jatuhnya kesadaran manusia yang terseret pada ilusi keabadian. “Buah khuldi itu adalah ilusi keabadian,” katanya.

Para perennialis, ujarnya, melekatkan tiga aspek kepada manusia suci (al-Mahdi) itu. Pertama, dari sisi kosmologisnya, manusia suci merupakan uncreated logos (logos yang tak tercipta). Dalam bahasa sufi, ia disebut dengan “Nur Muhammad”.

“Al-Mahdi sebagai logos, ia adalah Nur Muhammad tadi. Hakekatnya, dia merupakan benih jagad raya; benih alam semesta, dimana segala sesuatu yang selain Allah ada di dalamnya,” terang dia. “Logos atau Nur Muhammad itu adalah manifestasi pertama dari yang ilahi,” sambungnya.

Kedua, dari aspek historis, manusia suci ini memiliki fungsi profetis, yakni untuk menyelamatkan manusia yang terjatuh tadi dengan cara mengingatkan bahwa diri mereka merupakan imago dei (citra ilahi). “Jadi kita itu sebetulnya bukan makhluk bumi, tetapi makhluk langit.”

Ketiga, dari sisi inisiatif. Orang-orang yang ingin menyempurnakan dirinya itu harus memiliki satu perantara (wasilah). Bagaimana manusia, sebagai makhluk yang terbatas, mengenal yang tidak terbatas (yang ilahi)? Di situlah manusia membutuhkan manusia suci tadi. “Kita sebagai the fallen man tidak bisa. Karena itu, kita perlu jembatan, yakni manusia suci,” tegasnya (fdl).