Yogyakarta РRatusan Mahasiswa di Yogyakarta yang tergabung dalam Lingkar Aksi Mahasiswa Indonesia menggelar aksi refleksi 20 tahun reformasi. Aksi yang digelar itu, mereka menyebutkan politikus senior PAN, Amien Rais, tak pantas menyandang gelar bapak reformasi.

Aksi yang digelar di kawasan titik nol kilometer di Yogyakarta. Mereka menilai pernyataan-penyataan Amien Rais bernada provokasi yang bisa memecah belah bangsa.

“Bagi kita Pak Amien tidak layak dikategorikan sebagai tokoh reformasi sejauh ini,” kata koordinator lapangan lingkar aksi mahasiswa Indonesia-Yogyakarta, Dipa Nusantara kepada wartawan di disela aksi refleksi 20 tahun reformasi di titik nol km Yogyakarta, Senin (21/5/2018) sore.

Dipa menerangkan, pascareformasi nama Amien sempat diagung-agungkan sebagai bapak reformasi di Indonesia. Namun, kini atas aksi-aksinya itu, ia dianggap tak layak lagi menyandang gelar tersebut.

“Hari ini menjadi salah satu (tokoh) bisa dikatakan memprovokasi kegaduhan di bangsa ini. Makanya dari berbagai aktivis kemudian ingin mengkaji kembali posisi dia sebagai bapak reformasi,” paparnya.

“Karena sejauh ini yang bisa kita lihat bahwa Pak Amien selalu memberikan pernyataan-penyataan yang kontroversial. Baik itu yang ada di media massa bahkan kemudian menyebut ada beberapa partai Islam dan partai setan dan segala macam,” lanjutnya.

Menurutnya, sebagai tokoh bangsa seharusnya Amien dalam pernyataan-penyataannya memberikan kesejukan di tengah-tengah masyarakat. Bukan justru itu penyataannya berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

“Bagi kita (Amien) sebagai pelaku reformasi, sejatinya dia lebih baik menjaga stabilitas dan keutuhan NKRI. Saya pikir masih cukup banyak pelaku reformasi (selain Amien Rais) yang kemudian hari ini cukup bijak dalam melihat persoalan bangsa ini,” tandasnya.

Ia menambahkan aksi yang digelar untuk merefleksikan 20 tahun perjalanan reformasi yang dinilai gagal. Indikasinya yakni terjadi berbagai pembungkaman terhadap ruang-ruang demokrasi yang dilakukan pemerintah.

“Aksi ini adalah kita menanggapi 20 tahun reformasi. Di mana bagi kita hari ini ada kegaduhan politik nasional yang kemudian menyebabkan berbagai pembungkaman terhadap ruang demokrasi,” kata Dipa.

Pihaknya berharap pemerintah mengusut tuntas berbagai peristiwa teror di sejumlah tempat yang meresahkan masyarakat. Menurutnya, penuntasan kasus terorisme penting dilakukan pemerintah agar kasus tersebut terang-benderang.

“Kemudian tuntutan kita, kita tidak mau memilih pemimpin yang dia memiliki rekam jejak yang buruk terhadap perjalanan karir politiknya. Kita juga ikut memberikan kecaman terhadap parpol yang berpihak kepada organisasi yang anti pancasila,” pungkas dia.

Disela-sela aksinya, massa juga membawa beberapa spanduk bertuliskan “Menuntut negara tegas dengan tidak memberi ruang kepada kelompok paham radikalisme, mengecam partai yang bertentangan dengan Pancasila, Menolak lupa tragedi Mei 1998 dan Mendukung pihak keamanan usut tuntas pelaku terorisme”

Pernyataan sikap lainnya adalah seruan agar tidak memilih pemimpin yang punya catatan hitam, menuntut negara tegas tidak beri ruang kepada kelompok paham radikalisme, mendukung pihak keamanan usut tuntas pelaku teroris dan Kaji ulang sebutan Bapak Reformasi Amien Rais yang dianggap memecah belah bangsa.