Jakarta, Triknews.net – Pancasila merupakan satu contoh paling nyata dari gagasan penyerbukan silang antarbudaya (cross cultural fertilization). Tesis inilah yang diangkat Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudi Latif, saat hadir menjadi pembicara dalam acara “Eddie Lembong Memorial Lecture I” pada Jumat (25/05/2018) sore di Sekretariat Yayasan Nabil, Jl. Limo 42, AB, Permata Hijau, Senayan, Jakarta.

Acara ini digelar Yayasan Nabil bekerjasama dengan Paramadina Institute of Ethics and Civilization (PIEC) untuk mengenang sepak terjang almarhum Eddie Lembong, tokoh dan pendiri Yayasan Nabil yang meninggal belum lama ini. Salah satu sumbangan pemikiran Eddie dalam wacana kebangsaan adalah gagasannya mengenai penyerbukan silang antarbudaya untuk memperkuat budaya bangsa. Saat ini, gagasan tersebut semakin dilirik banyak orang; diliput sejumlah media terkemuka, dan dibicarakan di beberapa panggung seminar.

Menurut Yudi, proklamator kemerdekaan Indonesia, Soekarno, sudah dari awal menegaskan kalau nilai-nilai yang ada pada Pancasila itu merupakan hasil penyerbukan silang antarbudaya dari bumi Indonesia sendiri.

“Bung Karno sering menyatakan bahwa nilai-nilai Pancasila itu tidak dipungut dari udara. Tapi hasil dari pengangkatan saripati nilai yang sudah tumbuh ribuan tahun di alam Indonesia sendiri. Yang dia bilang tingkat penggaliannya itu saf demi saf,” tuturnya.

Lebih lanjut, Yudi menuturkan bahwa kerapkali ada pihak yang menuding kalau Soekarno tidak mendalam saat menggali nilai-nilai Pancasila. Mereka, kata Yudi, mengklaim bahwa dasar dari penggalian itu sejatinya Islam. Menurut mereka, hal itu akan dijumpai hanya bila Soekarno melakukan penggalian itu sampai paling dasar.

Sambil mengutip Soekarno, Yudi menegaskan, “Kata Bung Karno, ‘oh tidak. Saya menggali lebih dalam ketimbang lapisan Islam’. Dia bilang, ‘saya gali lapisannya mulai lapis pengaruh Barat, ketika bangsa-bangsa Eropa datang, lapisan Hindu, Budha, lapisan pra-Hindu-Budha, sampai jauh ke kedalaman’.”

Dengan fakta Pancasila merupakan hasil serbuk silang antarbudaya, Yudi kemudian bergerak pada isu sensitif lain yang juga kerap diperbincangkan akhir-akhir ini, yakni isu pribumi dan non-pribumi. Baginya, tidak ada yang sepenuhnya asli (pribumi) di Indonesia.

Yudi menyoal pihak yang kerap mengangkat isu pribumi di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang multi etnis sembari mengklaim kalau diri atau kelompoknya-lah orang-orang yang paling asli dari Indonesia.

“Lalu siapa manusia Indonesia pribumi?” tanya Yudi retoris. “Kalau bicara isu pribumi manusia Indonesia, maka sebenarnya yang dibicarakan adalah pribumi manusia di dunia itu sendiri,” kata dia memulai argumentasinya.

Karenanya, menurut Yudi, mula-mula yang harus dipertanyakan adalah siapa manusia pertama? Jenis manusia apa yang hidup pertama-tama di dunia ini?

Yudi menyatakan, saat ini ahli-ahli biologi molekuler sepakat bahwa manusia, apapun kulitnya, rasnya, atau agamanya, kalau di-track, semacam punya pohon silsilah atau induk tunggal.

“Induk dari segala ras manusia iu berasal dari induk tunggal, yakni laki-laki dan perempuan,” ujarnya. “Dari mana asal-usul homo sapiens? Dari Afrika Timur, lalu eksodus ke tempat-tempat lain,” sambungnya.

Masih kata Yudi, kalau pada dasarnya ras manusia awal itu Negroid, lalu kira-kira di Indonesia jenis manusia apa yang pertama? “Papua Melanisoid,” ujar dia.

Setelah ras ini, lanjut Yudi, ada ras Mongoloid. “Di dunia ini ada tiga rumpun Mongoloid,” terangnya.

Pertama, Asiatik Mongoloid atau ras Mongoloid yang ada di tataran Asia. Misalnya orang-orang China, Mongolia, Korea, dan Jepang. Kedua, Malayan Mongoloid atau Mongoloid Setalan. Orang-orang Indonesia, Brunai, Kamboja, Malaysia, Burma, dan Thailand misalnya, berada di kategori ini. Ketiga, American Mongoloid (Mongoloid benua Amerika). Orang India sampai Eskimo, berada pada kategori ras ini.

“Jadi saudara, kalau dari segi ras, antara Ahok (Basuki T. Purnama) dan Sandi (Sandiaga Uno), itu satu ras. Tidak ada yang lebih bodoh dari itu,” tegas Yudi sembari disambut tawa hadirin.

Di akhir paparannya, Yudi menyatakan bahwa Pancasila pada dirinya sendiri merupakan satu sintesis dari banyak budaya. Dan, hal itu mengalami perwujudan di tubuh Soekarno.

“Soekarno itu manusia takdir sejarah. Kenapa Soekarno menjadi penyatu bangsa ini? Karena di tubuhnya sendiri merupakan percampuran banyak unsur. Dia seorang Jawa dari pihak bapaknya, Bali dari ibunya. Ada Islam, ada Budhis,” tandas dia.

Chairman PIEC, Pipip A. Rifai Hasan, yang juga hadir menjadi pembicara mendampingi Yudi, membahas bagaimana penyerbukan silang budaya itu juga terjadi pada Islam. Sebagaimana Pancasila, kata Pipip, Islam merupakan satu bentuk hibrida dari berbagai budaya, etnis dan bangsa. Karenanya, lanjut dia, antara Pancasila dan Islam tidak ada pertentangan dan tidak perlu dipertentangkan.

“Kalau kita melihat sejarah peradaban Islam, antara Islam dan Pancasila itu, sama-sama merupakan hibrida. Jadi yang kita namakan sebagai Islam itu, juga merupakan hibrida dari berbagai peradaban, dari berbagai kebudayaan, dari berbagai etnis yang bermacam-macam,” tegasnya.

Pada perkembangannya, lanjut Pipip, Islam atau peradaban Islam itu akan selalu berkembang menyerap hal-hal yang baru sebagaimana terjadi pada jaman klasik Islam.

“Terutama ketika tahun 750 sampai dengan 1000 itu, Islam menyerap berbagai ilmu pengetahuan, filsafat, kedokteran dan lain sebagainya menjadi satu mozaik yang kaya dimana partisipasi atau pendukung dari peradaban itu tidak hanya berasal dari orang Arab, bahkan mungkin juga kontribusi dari bangsa-bangsa lain seperti Turki dan Iran sama dominannya,” paparnya.