Triknews.net – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Banyuwangi menggelar dialog publik dengan tema “Memupuk Toleransi Keberagamaan Etnis, Budaya, dan Agama Dalam Bingkai ke-Indonesiaan”. Dalam dialog tersebut, mereka fokus menyikapi persoalan radikalisme dan intoleransi yang semakin berkembang di kalangan masyatakat.

Apalagi munculnya banyak pihak yang merasa tidak bisa menerima perbedaan dan menilai pendapat mereka yang jauh lebih benar dan harus diikuti, yang juga tidak harang berbarengan dengan munculnya gerakan terorisme di Indonesia pun menjadi sebuah keprihatinan tersendiri bagi mereka.

Untuk mencegah radikalisme menjangkiti kaula muda khususnya, mereka pun mengharapkan seluruh stakeholder bangsa Indonesia sadar akan keberagaman yang sudah menjadi bagian terpenting dalam Kebhinnekaan Indonesia.

“Tema yang kita ketengahkan dalam dialog kali ini adalah memupuk toleransi keberagaman etnis, budaya dan agama dalam bingkai ke-indonesiaan,” ungkap Ketua PC PMII Banyuwangi Puri Indra yang memberikan sambutan dialog publik di Aula Institut Agama Islam Darussalam, Blokagung, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi, Jumat (19/7/2018).

Tidak hanya perkara terorisme yang menjadi sorotan dalam dialog tersebut. Namun, persoalan SARA yang semakin menguat juga menjadi fokus pembicaraan lainnya.

“Radikalisme bukan semata persoalan terorisme. Sentimen SARA juga bagian dari radikalisme itu sendiri yang harus kita lawan,” imbuh Puri.

Salah satu narasumber yang dihadirkan dari pihak kepolisian mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, kampanye deradikalisasi harus terus digelorakan di tengah masyarakat.

“Kegiatan seperti tepat di tengah momentum aksi teror yang sempat terjadi akhir-akhir ini. Perlu adanya upaya-upaya edukatif terhadap masyarakat akan bahaya laten radikalisme,” ujar Kasat Intelkam Polres Banyuwangi Amir Machmud yang didapuk menjadi narasumber.

Dialog yamg dihadiri kalangan mahasiswa itu, juga mendatangkan dua narasumber lain. Di antaranya perwakilan Forum Kerukunan Lintas Agama (FKUB) Banyuwangi Achmad Choirul dan intelektual muda Nahdlatul Ulama Muhammad Faishol. Keduanya, menjeletrehkan tentang perkembangan radikalisme dan upaya-upaya strategis kalangan muda untuk menangkalnya.