Jakarta – Empat elemen Generasi Milenial terdiri dari Student Peace Indonesia, Garda Milenial Indonesia, Barisan Garda Pancasila dan Koornas Indonesia Gagah menyatakan mendukung Jokowi 2 periode.

Hal itu mengemuka saat konferensi pers bertema “Bergandeng Tangan Lawan Hoax Demi Memperkokoh Kualitas Demokrasi” yang dimotori Guyub Aktivis Milenial 2019 Dukung Jokowi di Warung Up Normal Mayestik Jakarta Selatan, Minggu (29/7/2018).

Ketua Umum Garda Milenial Indonesia Rifaldi Docmi membeberkan alasannya pihaknya mendukung Jokowi agar terpilih kembali di 2019 nanti. Salah satu alasannya adalah soal perkembangan pesat dalam pembangunan infrastruktur.

“Pemerataan pembangunan benar-benar terjadi. Ini menjadi alasan kami memberikan dukungan yang tidak begitu saja lahir, tapi proses pengamatan dan monitoring yang kami lakukan,” ungkap Rifaldi.

Lebih lanjut, dia melihat selama ini proses demokrasi dalam pemerintahan Jokowi sungguh sangat baik, sikap Jokowi yang mengayomi segala golongan dan merangkul berbagai kalangan dalam proses melaju pembangunan nasional, memperlihatkan Jokowi sebagai tokoh teladan dalam berdemokrasi.

“Sikap egalitarian presiden Jokowi menunjukan bahwa pemerintahan Jokowi hanya berurusan dengan pembangunan politik, ekonomi hukum, sosial budaya dan ketahanan Nasional,” sebutnya.

Rifaldi memuji upaya pemerintah Jokowi mengajak dan menuntun semua elemen kebangsaan dan kenegaraan untuk bersama-sama berpacu dalam membangun dan menjaga NKRI, sehingga sungguh jarang Jokowi berurusan dengan persoalan -persoalan hoax yang menyudutkan dan lebih sering Jokowi mengabaikan atau tidak mempermasalahkan apapun bentuk isu hoax tentang dirinya.

“Bahkan Jokowi mengajak perang melawan hoax, karena hoax bisa merusak pola pikir masyarakat dan menghancurkan kebersamaan dalam menbangun Indonesia menjadi negara maju, sesuai dengan cita-cita seluruh bangsa Indonesia dan tumpah darah Indonesia,” sebutnya.

Ditempat yang sama, Ketua Umum Student Peace Indonesia Doddi Abdalah menyebut bahwa fenomena hoax sangat berbahaya sekali dampaknya. Dia menghimbau agar para kompetitor yang bertarung di laga Pemilu 2019 untuk tidak bermain kampanye berita hoax.

“2018-2019 ini memang tahun politik, jangan biarkan demokrasi berjalan tidak baik dengan kampanye menggunakan berita hoax,” sebutnya.

Termasuk, kata dia, fitnah yang saat ini menyerang Presiden Jokowi, yang dibilang anak PKI. Justru, kata dia, permainan yang dilakukan ini bisa memicu gesekan dan konflik di tataran masyarakat kelas bawah.

“Masyarakat kelas bawah akan sangat mudah menyulut emosi. Kita harus belajar dari Pilkada DKI, isu sara kembali terulang. Karena by desaign akan mengulangi strategi Pilkada DKI kembali,” jelasnya.

Hal senada juga dilontarkan Ketua Barisan Garda Pancasila Nasir Al Walid yang mengakui bahwa berita hoax kian masif di lancarkan di tahun politik ini, terlebih berita hoax tersebut digunakan untuk menyerang pemerintah yang sedang berjalan saat ini.

“Waspadai upaya adu domba yang sangat mudah sekali terjadi dengan informasi palsu alias berita bohong,” ucap Nasir.

Sementara itu, Student Peace Indonesia Doddi Abdalah mengajak semua pihak untuk cerdas dalam memahai berita yang beredar diruang publik.

“Kita harus cerdas, dicerna terlebih dulu, budayakan tabayyun sebelum menyebar informasi atau berita. Hoax adalah fitnah, dan fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan,” ujar Doddi.

Dia mengatakan bahwa efek berita hoax sangat luas seperti menjatuhkan orang bahkan sampai ada kasus yang bunuh diri lantaran berita bohong.

“Hoax biasanya digunakan oleh lawan politik, dengan tujuan untuk menjatuhkan elektabilitas lawanya,” kata Doddi lagi.

Masih kata dia, bahwa cara mengatasi berita hoax sangatlah berat dan Doddi menyarankan agar para pemuda terjun kelapangan memberikan penyuluhan ke masyarakat agar pandai-pandai menyerap informasi yang tersebar di media sosial yang belum jelas kebenarannya.

“Dengan berbagai pertimbangan, kita setuju kerja Jokowi dan jajarannya untuk 2 periode. Generasi milenial siap tangkap berita hoax di Pemilu 2019,” pungkasnya.