CILACAP, Triknews.net – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Imam Ghazali (IAIIG) Cilacap menggelar seminar kebangsaan dengan tema “Menelisik akar radikalisme dakwah melalui media serta menanggulangi radikalisme agama pada zaman now” yang digelar di area kampus mereka.

Dalam kegiatan tersebut, kajian soal radikalisme menjadi pokok pembahasan utama, apalagi saat ini radikalisme dan intoleransi masih menjadi persoalan fundamental tersendiri bagi bangsa Indonesia khususnya generasi milenial.

Menyikapi hal tersebut, salah satu budayawan Banyuwangi, KH Ahmad Tohari memberikan penilaian bahwa maraknya paham radikal di kalangan generasi milenial lantaran masifnya akses informasi dan doktrin terhadap paham yang kini menjadi momok tersendiri bagi bangsa Indonesia.

“Beberapa faktor sosial yang mempengruhi adanya gerakan radikalisme yakni muslim di Indonesia hidup dalam kondisi penuh kegelisahan. Selain itu, orang-orang kini lebih suka berkomunikasi melalui media sosial, sehingga lebih berani menyampaikan pesan radikal melalui media sosial seperti facebook, website, youtube, dan sebagainya,” kata Kiyai Tohari di aula Al Ghazali, IAIIG, Cilacap, Jawa Tengah, Minggu (29/7/2018).

Seharusnya, generasi muda yang peduli pada keutuhan NKRI dan terhindarnya bangsa Indonesia dari upaya perpecahan yang ditimbulkan dari kelompok radikal adalah dengan juga memasifnya kampanye deradikalisasi di dunia internet.

Ia juga berpesan kepada seluruh civitas akademika minimal di lingkungan IAIIG harus ikut aktif dalam menangkal paham radikalisme yang rentan memapar generasi muda khususnya kalangan Mahasiswa.

Kampanye deradikalisasi menurut Kiyai Tohari ada 3 (tiga) poin.

“Mengigat Allah, mengingat diri sendiri, mengingat darimana kita berasal atau siapa diri kita,” tuturnya.

Selain itu, Kiyai Tohari juga meminta agar generasi muda Indonesia selalu memberikan kontribusi aktif kepada bangsa dan negara agar upaya terpaparnya paham radikal di kalangan bangsa Indonesia dapat diantisipasi dengan masif.

“Silahkan berkontribusi terhadap negara dan agama, dan dapat dilakukan melalui hal-hal yang positif,” tutupnya.

(***)