Jakarta – Hakim Aris Bawono Langgeng akhirnya mengadili dan menyatakan JAD terbukti sah dan meyakinkan melakukan terorisme. JAD dikenakan denda 5 juta rupiah, selain itu hakim juga membekukan JAD dan organisasi lain yang terafiliasi dengan ISIS dan menyatakan sebagai organisasi terlarang.

Pengamat Terorisme Stanislaus Riyanta menyebut dengan dibekukan dan dilarangnya JAD maka akan semakin memudahkan penegak hukum untuk melakukan tindakan terhadap kelompok radikal yang berafiliasi dengan JAD dan ISIS.

“Hal ini akan menjadi tekanan baru bagi JAD dan organisasi lain yang berafiliasi dengan ISIS, sehingga membuat kelompok radikal tersebut akan menjadi sleeper cell,” tegas Stanislaus Riyanta, Selasa (31/7/2018).

Selain menjadi sleeper cell, Mahasiswa Doktoral bidang Kebijakan Publik Universitas Indonesia mengatakan ada kemungkinan lain adalah adanya adaptasi kelompok radikal dari sistem organisasi/kelompok menjadi sistem sel-sel dalam format keluarga, yang sudah terjadi pada pelaku bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo.

“Adaptasi ini sulit dideteksi karena mereka hanya melakukan komunikasi dalam keluarga dalam bentuk tatap muka, tidak ada transmisi komunikasi yang bisa dipantau, dan tidak ada aliran dana yang terdeteksi,” ujarnya.

Masih kata Stanislaus, dampak lain dari putusan ini adalah potensi adanya balas dendam yang bisa dilakukan oleh kelompok teroganisir atau simpatisan dalam model lone wolf. Tentu saja target utama dari sasaran ini adalah pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh seperti yang selama ini terjadi yaitu polisi.

Oleh karena itu, dia berpesan agar Polri, TNI, BIN dan BNPT berkolaborasi untuk terus melakukan penanggulangan kelompok radikal ini. Dengan deteksi dini maka akan diperoleh pemetaan yang akurat dan data yang tepat.

“Selanjutnya adalah cegah dini dengan melakukan penanganan terhadap orang atau kelompok menjadi anggota JAD atau kelompok lain yang berafiliasi dengan ISIS, tindakan hukum yang tegas harus dilakukan,” pungkasnya.