Jakarta, Triknews.net — Kontestasi politik elektoral untuk memperebutkan kursi anggota dewan legislatif tahun 2019 sudah semakin dekat. Sejumlah nama caleg dengan berbagai latar profesi yang disandang masing-masing sudah bermunculan.

Salah satu nama yang tidak asing lagi adalah pengacara kondang, Mujahid A. Latief. Ia memutuskan maju bertarung dengan sejumlah kandidat lain untuk memperebutkan kursi “Senayan” atau DPR-RI di Dapil NTB I (Kab. Bima, Kota Bima, Kab. Dompu, Kab. Sumbawa, dan Kab. Sumbawa Barat) melalui Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

Kepada awak media, pengacara kelahiran Bima ini beralasan bahwa keputusannya maju sebagai caleg, agar ia bisa mengabdi secara lebih luas kepada masyarakat, utamanya di NTB sebagai medan pemilihan bagi dirinya.

“Bagi saya, hidup itu pilihan, kepuasan batin bisa mengabdi juga merupakan ‘destiny’ dalam suatu kehidupan,” ujar Mujahid, Minggu (05/08/2018).

“Pada intinya, saya memegang prinsip yang diajarkan oleh agama kita, yakni sebisa mungkin memberikan manfaat kepada orang banyak, khairunnas anfa’uhum linnas (sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya–red),” tambahnya.

Pengacara lulusan Magister Hukum Universitas Indonesia ini menambahkan, dengan menjadi anggota dewan, niat untuk mengabdi kepada masyarakat secara lebih luas itu bisa diekspresikan dan direalisasikan, yaitu dengan segala kewenangan yang dimiliki oleh lembaga legislatif. Karenanya, ia mengusung tagline “Saya Ingin Mendengar, Saya Ingin Mengerti, dan Insyaallah Saya Akan Melakukannya”.

“Tagline ini bukan sekedar kata-kata penghias. Tapi merupakan “rules of the game” saya ketika nanti ditakdirkan menjadi anggota DPR-RI,” ujar Mujahid.

“Jadi, langkah pertama yang akan saya lakukan mulai dari sekarang adalah mendengar sebanyak-banyaknya dari masyarakat; permasalahan mereka, kemauan mereka, harapan mereka, dan sebagainya. Lalu hasil mendengar tersebut akan saya pahami untuk kemudian diterjemahkan ke dalam program yang bisa menjawab persoalan. Tentunya berdasarkan kewenangan yang ada pada anggota legislatif. Langkah terakhir adalah eksekusi. Menurut saya ini adalah langkah terbaik untuk memberikan yang terbaik pada masyarakat,” katanya menjelaskan.

Belakangan ini, Mujahid kerap tampil di beberapa media atas keberhasilannya menangani sejumlah perkara. Dia pernah dipercaya menjadi kuasa hukum Jane Shalimar (artis) dalam perkara permohonan itsbat nikah dan cerai di Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Perkara tersebut ia menangkan sampai pada tingkat kasasi.

Namanya kian melambung saat dipercaya menjadi Kuasa Hukum Fahri Hamzah (Wakil Ketua DPR RI) saat melawan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Mujahid memenangkan perkara Fahri yang melawan partainya karena menolak dipecat sampai pada tingkat Kasasi dimana putusannya sudah keluar pada tanggal 30 Juli 2018 lalu.

Sebagai tambahan informasi, Mujahid kerap dikenal sebagai sosok pejuang yang cerdas, tegas dan berwibawa, lantaran ia kerap kali tampil di barisan terdepan dalam membela hak-hak kaum minoritas.

Selain itu, Mujahid juga terlibat aktif di beberapa organisasi sosial-kedaerahan, di antaranya adalah FKM Salaja (organisasi yang menghimpun masyarakat Sape Lambu Jabodetabek) dan Badan Musyawarah Masyarakat Bima (BMMB). Di organisasi ini, ia telah banyak terlibat dalam beragam kegiatan sosial-kemasyarakatan, misalnya turun langsung mendistribusikan bantuan dari donatur kepada korban banjir bandang Bima di penghujung tahun 2014.

Terlibat di kegiatan-kegitan itu, katanya, karena ia peduli pada tanah kelahirannya.