Jakarta – Dua pasang Capres yang akan berlaga 17 April 2019 resmi mendaftarkan diri di KPU, kemarin. Mereka datang beramai-ramai dengan gaya dan pernak-pernik beragam. Dengan gaya pidato yang berbeda. Jokowi yang berpasangan dengan Kiai Ma’ruf Amin nampak tampil adem. Sementara Prabowo yang menggandeng pengusaha Sandiaga Uno tampil lebih anget dengan diarak mobil mewah dan berjoget pakai “Lagi Syantik”.

“Salut untuk Pak Jokowi yang tampil dengan kesederhanaan dan ingatkan agar tidak usah beramai-ramai karena suasana masih berkabung. Pak Jokowi Kiai Ma’ruf Amin sangat berempati terhadap korban bencana gempa bumi di Lombok. Harusnya ini di contoh oleh pasangan capres cawapres satunya,” ungkap Sekjen Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (Jari 98) Ferry Supriyadi, Sabtu (11/8/2018).

Sementara itu, aktivis 98 itu justru menyayangkan kedatangan Prabowo yang klaimnya didukung oleh suara ijtima’ ulama itu justru mempertontonkan ketidakempatiannya terhadap korban bencana gempa bumi di Lombok.

“Ini kan suasana masih berkabung, saudara-saudara kita di NTB, Pak Jokowi saja langsung bertolak ke lokasi gempa. Lha ini malah joget-joget. Selalu berkoar-koar rakyat sedang susah, tapi ke KPU pake mobil mewah, joget-joget pula. Kalau bisa pakek kuda kampung jangan kuda harga Milyaran,” sindir Ferry.

“Pak Kiai Ma’ruf Amin aja masih sempat meminta para pendukungnya untuk mendoakan warga NTB yang terkena gempa,” kata Ferry lagi.

Kata Ferry, kesedihan dan kekecewaan tak lagi terbendung dihati para korban gempa di NTB ini, dan kini harus menelan pil pahit dari Prabowo. Sebelumnya, pendukungnya bikin kecewa warga Lombok yang malah mengaitkan bencana yang menelan korban ratusan jiwa itu adalah azab dari Allah SWT.

“Ironis sekali, ini kenyataan yang sedang terjadi. Lihat kondisi disana korban harus bertahan hidup dan belum lagi menyaksikan keluarga, anak, orang tua dan sanak saudara menjadi korban gempa para pendukung Prabowo terus-terusan membuly dengan mengatakan azab yang menimpa rakyat NTB akibat Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang berpindah haluan politik mendukung Presiden Joko Widodo,” bebernya.

“Mereka sedang tertimpa musibah, jangan malah senang-senang joget-joget dan menganggap itu adalah azab. Empati kalian dimana?,” tuturnya.

Selain itu, Ferry juga melihat masih ada kebencian sebagai jurus ampuh dan strategi melumpuhkan nalar dan akal sehat. Kata, dulu strateginya politisasi agama demi menjatuhkan Ahok, kini strateginya politisasi Ahok demi memenangkan Prabowo.

“Inilah hebatkan kubu Prabowo – Sandiaga Uno. Diadu terus dengan memupuk rasa kebencian, jadi musuh kita sebenarnya adalah kebencian. Kini strateginya politisasi Ahok untuk benturin Ahoker dengan cawapres Jokowi Kiai Ma’ruf Amin,” pungkasnya.