Jakarta – Memanfatkan momentum HUT RI ke 73 Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Jayabaya (MAPALAYA) mencoba membangkitkan semangat kemerdekaan serta menumbuhkan kembali cinta kepada negeri dengan cara peduli terhadap lingkungan. Kegiatan tersebut digelar pada hari Jumat dan Sabtu tanggal 10-11 bertajuk “Citarum Berakal” yakni (Bersih, Alami dan Lestari) salah satu dengan cara menanam pohon serta bersih-bersih Situ Cisanti.

“Ini juga bentuk Implementasi kami di MAPALAYA sebagai pencinta alam yang tertera di kode etik kami salah satunya yaitu, ‘Pecinta alam Indonesia sadar bahwa alam dan isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa’,” ucap Bidang Komunitasi Eksternal IKA Mapalaya Tanggon NM, hari ini.

Dirinya mengaku pihaknya telah memilih melakukan penanaman pohon di hulu Citarum yang berlokasi di Desa Tarumajaya Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung, pada koordinat -7°12’1” – 107°39’26” pada ketinggian diatas 1.600 m dpl. Lantaran sungai citarum termasuk salah satu sungai terkotor di dunia. Citarum yang mempunyai panjang kurang lebih 300 km dan memasok 3 pembangkit listrik tenaga air, 400.000 hektar sawah bergantung pada sungai citarum, dan 28 juta warga bergantung pada citarum.

Menurut penelitan yang dilakukan blcaksmith instituet pada tahun 2013 menemukan tingkat timbal di citarum 1000 kali lebih tinggi dari standar untuk air minum. Sementara kadar alumunium, mangan dan besi jauh lebih tinggi dari tinggkat yang di anjurkan.

“Ini juga merupakan salah satu bentuk partisipasi kami terhadap penanggulangan pencemaran dan kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum serta percepatan dan pengendalian pencemaran kerusakan ekosistem daerah aliran sungai Citarum,” sebutnya.

“Pohon yang kami tanam berjenis Eucalyptus regnans dan Eucalyptus deglupta, lokasi penanamanya lebih tepatnya di petak 71, tidak jauh dari Situ Cisanti,” ujarnya.

Tanggon yang didampingi Team Artha Graha Peduli (AGP) Citarum Lestari (Rehabilitasi Hutan dan Pemberdayaan masyarakat) Kawasan Hulu Citarum merasa bersyukur telah dibantu merawat pohon-pohon yang mereka tanam. Dan ia mendapatkan banyak pengalaman berharga dari Tim AGP ini.

“Banyak hal yang kami pelajari dari team AGP seperti bagaimana cara mereka melakukan pembibitan yang benar, bagaimana merawat pohon apabila terkena cuaca buruk, adopsi pohon untuk rehabilitasi hutan kawasan hulu citarum, sosialisasi terhadap masyarakat agar tercipta keharmonisan antara manusia dan alam,” sebutnya.

“Mereka mempunyai slogan “mati 1 tanam 10″ apabila ada 1 pohon yang mati maka harus menanam 10 pohon,” kata Tanggon lagi.

Tak hanya itu, Tim AGP Citarum Lestari (Rehabilitasi Hutan dan Pemberdayaan masyarakat) Kawasan Hulu Citarum juga sedang mensosialisasikan tanaman rumput vetiver. Vetiver merupakan sejenis rumput-rumputan berukuran besar dan memiliki banyak keistimewaan diantaranya mengurangi erosi serta longsor. Tanaman ini di Indonesia dikenal dengan nama akar wangi (Vetiveria zizanioides) atau usar (Vetiver nigritana), dapat tumbuh diberbagai bentuk kondisi tanah; areal perbukitan, dataran rendah, daerah rawa dan bahkan pada areal bekas tambang. Selanjutnya tanaman ini tumbuh tegak dengan tinggi mencapai 1,5 hingga 2,5 meter serta dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan rendah maupun daerah yang curah hujan cukup tinggi.

“Kami juga mencanangkan penanaman kopi, selain ekonomis tanaman kopi diharapkan dapat mendukung penguatan kondisi lahan dari risiko ancaman bencana banjir dan longsor,” bebernya.

Bahkan, bermanfaat memperbaiki dan mengembalikan kembali puluhan ribu hektar ekosistem sekitar hulu Daerah Aliran Sungai Ci Tarum yang rusak akibat penjarahan lahan dan penanaman komoditi sayuran seperti kol dan kentang. Di sisi lain, permintaan kopi asal Jabar yang sudah diakui dunia juga sangat besar.

Konon berdasarkan kabar yang berhembus dari warga sekitar di sana masih ada macan tutulnya juga. Macan tutul itu kan termasuk hewan langka dan masuk kategori hampir punah jadi harus di lestarikan. Katanya, Macan tutul ini binatang yang unik, tidak seperti singa atau harimau yang berburu dengan kelompok, macan tutul lebih suka berkeliaran di sekitar wilayahnya sendirian dan menunggu mangsa di malam hari. Bulu yang menutupi Macan tutul dapat menjadi bulat atau bentuk persegi, yang sangat membantu untuk berkamuflase dengan lingkungan maka macan tutul akan menjadi kurang terlihat dan tidak disadari oleh mangsa. Indra yang dimiliki macan tutul sangat hebat pendengaran mereka lima kali lebih baik daripada manusia. Mereka bisa menggeram seperti singa, serta bergumam lirih seperti kucing liar.

“Macan tutul dianggap salah satu dari 10 hewan paling terancam punah di dunia. Memang harus melakukan survey lebih mendalam lagi tentang kebenaranya, mungkin saja bukan hanya macan tutul saja yang ada disana,bisa jadi ada Elang Jawa, Oa Jawa, Macan Kumbang, Ketam Ungu, serta Katak Bertanduk hijau dan lainya,” ucapnya.

Dia melanjutkan pihaknya bersama tim AGP Citarum Lestari (Rehabilitasi Hutan dan Pemberdayaan masyarakat) Kawasan Hulu citarum juga melakukan bersih-bersih situ cisanti dari ganggang liar yang banyak tumbuh di sana. Citarum sebenarnya kaya akan ekowisatanya yang bisa dikembangkan. Banyak wisata di citarum yang menarik dan kekinian.

“Mata air pangsiraman dan Situ Cisanti, Wisata waduk Cirata, pemandian air panas, Sanguling dan Jatiluhur dan Tiga Goa, yang berada di Sanguling. Belum lagi kita bisa mencicipi susu murni khas perternakan citarum.dan masih banyak lagi yang lainnya yang belum kami ketahui,” jelasnya.

“Mungkin kedepanya, kami juga akan membuka trip wisata ke daerah citarum karena banyak ekowisatanya, nanti coba kami pelajari lagi. Kami mendengar ada tebing juga di daerah gunung wayang, nanti kami akan survei dulu apa bisa kita gunankan untuk panjat tebing,” tuturnya.

Dia menambahkan Mapalaya berharap agar kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan di hulu citarum ini bisa menjadi virus buat yang lainnya bukan hanya mahasiswa tetapi juga dari berbagai element masyarakat.

“Membersihkan Citarum ini butuh campur tangan banyak orang terutama generasi muda, mari kita jadikan trend di generasi milenial untuk peduli terhadap lingkungan,salah satunya melestarikan citarum. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi,” pungkasnya.