Jakarta – Pengamat Komunikasi Advokasi dan Kebijakan Publik Yongla Patria menilai gerakan Hastag 2019 Ganti Presiden dikategorikan demokrasi yang kebablasan.

“Bisa saja di kategorikan demokrasi yang kebablasan, padahal rambu-rambu secara konstitusi sudah lengkap dan jelas. Tapi toh di tabrak juga oleh pihak mereka,” ungkap Patria, hari ini.

Padahal, kata dia, di pihak mereka ditemukan banyak sosok intelektual namun dia menyayangkan masih saja terjadi gerakan tersebut. Dia menuding aksi itu sebagai ambisi kekuasaan yang ingin diperebutkan.

“Ambisi dan intelektualitas agak beda terminologi nya, ambisi negatif bisa berkembang karena faktor lemah nya moralitas, lemah nya etika, kurang komunikasi sedangkan ambisi positif bisa berkembang karena kuat nya daya saing yang sehat, kompetensi & visi misi yang terpola,” bebernya.

Sementara itu, tambah dia, dengan intelektualitas yang berkembang karena daya serap pemikiran serta selalu mencari pembaharuan atau mencoba menerobos sesuatu yang ilmiah maupun non ilmiah mendalam dan bisa di pertanggung jawabkan serta berguna bagi masyarakat. Namun jika ambisi dan intelektualitas bersatu dalam pola serta arah, sistem yang kurang tepat maka hal ini akan menimbulkan beberapa hal, antara lain adalah pertama gejolak pro kontra di dalam masyarakat.

“Lihat # 2019 Ganti Presiden apalagi yang di sertai dengan penggantian sistem (dasar negara) itu menimbulkan pro kontra yang tajam bisa menimbulkan perpecahan sesama anak bangsa,” ucap dia lagi.

Berikutnya, tambah dia, secara hukum gerakan hastag Ganti Presiden bisa di analisis dalam pengelompokan perbuatan “makar” karena hastag itu mengandung hasrat atau niat menurunkan Presiden. Padahal ini baru tahun 2018 sedangkan Pilpres kan akan berlangsung 2019.

Ketiga, kata dia, saluran yang kurang tepat menyampaikan aspirasi. Jika tak puas dengan kinerja Presiden, dia menyarankan agar menyalurkan nya melalui lembaga DPR RI atau berusaha untuk melakukan gerakan legalitas formal di DPR, MPR, MK untuk Impeacment bukan deklarasi # 2019 Ganti Presiden di ruang terbuka umum di berbagai daerah.

“Hal seperti inilah yang kurang di pahami oleh banyak orang. Ingat hal tersebut bisa menimbulkan pro kontra yang tajam di antara sesama anak bangsa,” katanya.

“Pertanyaannya, apakah dengan alasan demokrasi maka kita mau demokrasi yang mengusung akan menuju kebuntuannya atau kehancurannya. Pada akhirnya kebencian sesama anak bangsa semakin tajam dan akhirnya menuju perpecahan,” bebernya lagi.

Dia berpesan agar melakukan persaingan secara sehat seperti “Deklarasi Prabowo – Sandi untuk Presiden 2019 seperti kubu Jokowi yang sering deklarasi Jokowi – KH Ma’ruf Amin untuk Presiden 2019. Serta berkaryalah untuk masyarakat, apa yang bisa di lakukan demi masyarakat maka lakukanlah hal terbaik untuk rakyat.

Dengan demikian maka si “Ambisi yang sehat” akan selalu tersenyum manis kepada semua anak bangsa.

“Coba bayangkan jika kubu Jokowi – KH Ma’ruf Amin membalas dengan mengeluarkan Hastag Bubarkan PKS, atau bubarkan Gerindra atau Hastag hastag lainnya yang tajam tajam. Apa tidak runyam bangsa ini. Nah inilah yang perlu kita sadari bersama untuk bagaimana berdemokrasi yang sama-sama saling menghormati, menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan dan persatuan anak bangsa,” pungkasnya.