Jakarta – Ratusan massa mengatasnamakan Ahli Waris Simon Tudus kembali menggelar aksi geruduk Pertamina Pusat dan Istana Negara, Jakarta, Kamis (18/10/2018). Dalam aksi solidaritas itu mereka mengecam Pertamina Pusat yang dinilai telah lalai membiarkan kasus sengketa lahan ahli waris Simon Tudus dengan Depot Pertamina Bitung yang dibiarkan berlarut-larut.

“Pertamina telah merampas hak ahli waris Simon Tudus atas tanah didepot Pertamina Bitung Sulawesi Utara,” tegas Koordinator aksi Christye Bakary saat berorasi.

Lebih lanjut, Christye menuding Pertamina membohongi pihaknya dengan janji manis dan mimpi indah yang hingga sekarang tak pernah satupun menerima hak-haknya.

“Kami berdiri disini bukan tanpa sebabnya atau bukan tanpa tujuannya tapi kami disini menuntut hak yang telah di rampas oleh Pertamina. Pertamina terus menerus mencoba untuk pura-pura tidak tahu keberadaan kami. Pertamina pura-pura memejamkan mata padahal jelas melihat kami disini dan Pertamina pura-pura menutup telinga rapat-rapat agar tidak mendesak seruan aksi kami Kali ini,” sebut dia.

Dia mengaku pihaknya sudah menggelar aksi selama empat kali di depan Depo Pertamina Bitung dan ini merupakan aksi keduanya menyambangi Pertamina Pusat. Itikad baik Pertamina yang seharusnya sebagai lembaga Negara memberikan contoh kepada masyarakat.

“Ini menjadi terbalik, rakyat yang beri contoh ke Pertamina. Kami saja tetap membayar bensin sesuai dengan aturan yang berlaku tapi Pertamina memakai lahan Kami sebagai Depo tidak menjalankan kewajibannya? Negara kita jelas Negara hukum tapi lucunya lembaga Negara kitalah Pertamina yang tidak taat hukum,” sebutnya.

Tak hanya itu, tambah dia, Ahli Waris Simon Tudus juga meminta Presiden Jokowi untuk turun tangan menyelesaikan permasalahan yang terjadi berpuluh tahun lamanya. Mengingat tepat tanggal 20 Oktober ini merupakan tahun ke 4 pemerintahan Jokowi sebagai Presiden RI.

“Kami meminta dengarkan suara kami yang mestinya didengar oleh Pertamina. Kepada siapa Lagi kami mengadu jika bukan kepada Bapak Jokowi? Kami lelah dengan semua ini,” terang dia.

Mereka mendesak agar Jokowi mencopot Menteri BUMN yang harusnya bertanggung jawab menjadi penengah antara Ahli Waris dengan Pertamina. Dirut Pertamina alangkah baiknya segera mundur dari jabatanya kalau memang tidak bisa menyelesaikan permasalahan ini.

“Kami Akan tetap menyuarakan ini sampai titik darah terakhir,” kata dia lagi.

Sementara itu, Presidium Youth Movement Institute (YMI) Reza Malik menyebut Pertamina seakan-akan tertidur dan pura-pura tidak mengerti keadaan yang terjadi saat ini terutama kepada Ahli Waris Simon Tudus. Pertamina yang seharusnya menjadi salah satu perwakilan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tapi malah merampas hak yang harusnya di terima oleh Ahli Waris Simon Tudus.

“Kami heran kenapa Pertamina mengulur-ulur untuk menyelesaikan apa yang seharusnya menjadi kewajibannya Pertamina terhadap Ahli Waris Simon Tudus,” tambah Reza.

Presidium Indonesia Study Center (ISC) Adiputera menyayangkan Pertamina yang dituding tidak taat hukum. Padahal, kata dia, Pertamina yang merupakan perwakilan Negara itu justru tidak mengindahkan amar putusan yang di menangkan Ahli Waris Simon Tudus.

“Kami berdiri disini jelas karena kami memberikan dukung moril dan aksi nyata untuk mendukung Ahli Waris yang haknya di rampas oleh Pertamina,” ucap Adiputera.

Lebih jauh, Adiputera mengemukakan bahwa polemik Depot Pertamina Bitung menjadi bukti nyata bahwa Pertamina tidak sesuai dengan Nawacita yang digadang-gadang oleh Presiden Jokowi. “Kepercayaan publik luntur, kami sangat miris dengan kedzoliman rezim ini. Momen Sumpah Pemuda, kami akan turun kejalan kembali dengan menggalang lebih banyak lagi generasi muda serta mahasiswa untuk menyuarakan ketidakadilan yang dipertontonkan Pertamina,” pungkasnya.