Jakarta, Triknews.com – Menjelang Aksi 212 Jilid II di depan gedung DPR-MPR pada 21 Februari 2017 lalu, ada gambar menyebar di dunia maya, khususnya di media sosial, yang mengabarkan kalau Masjid Istiqlal ditutup pakai gembok dan diberi kawat berduri, sehingga massa yang akan ikut aksi tak bisa masuk dan tidur di jalanan.

Tudingan itu langsung dibantah oleh Kepala Bagian Protokoler Masjid Istiqlal Abu Hurairah, dan dinyatakan sebagai hoax. Sebab, menurut Hurairah, pihaknya tidak pernah melarang aksi dan tidak pernah mengunci pintu masjid.

“Hoax seribu persen,” tegas Abu saat dihubungi wartawan pada Selasa (21/2).

Kemudian setelah beredarnya gambar hoax itu, lalu beredar lagi dua gambar polisi (sniper) memegang senjata, di mana yang satu tengah berada di sebuah halte mengintai jalan raya dan satu lagi berada di satu ruangan tengah mengintai gedung DPR.

Tidak hanya itu saja, dua gambar editan itu (gambar polisi sniper) telah bermetamorfosa menjadi gambar meme. Dua gambar tadi dipadukan dengan gambar hoax digemboknya Masjid Istiqlal untuk massa Aksi 212 Jilid II.

Gambar itu diedit dan disusun secara vertikal (atas-bawah). Pada gambar bagian atas, diberi keterangan: “Pintu masjid Istiqlal digembok dan diberi kawat berduri.” Sementara pada gambar bagian bawah, diberi keterangan: “Di gedung DPR disiapkan sniper. Ya Allah apakah kami sudah dianggap musuh di negeri kami sendiri.”

Pertanyaannya, apakah keterangan di dalam gambar bagian bawah itu benar adanya?

Kalau memperhatikan isu digemboknya masjid Istiqlal yang telah dinyatakan sebagai hoax, maka bukan tidak mungkin gambar (polisi sniper) tadi juga hoax. Apalagi dari foto yang beredar, tidak ada bukti nyata yang menunjukkan kalau polisi sniper itu tengah megintai massa aksi.

Kasus ini serupa dengan isu yang sempat beredar beberapa saat menjelang digelarnya aksi 411 pada akhir 2016 lalu. Saat itu, pihak kepolisian juga dituding hal yang sama: akan menyiapkan para sniper untuk mengamankan aksi.

Menanggapi hal itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Awi Setiyono menegaskan, pihaknya tidak akan mengerahkan sniper atau penembak jitu pada saat aksi 411 terkait dugaan penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

“Nggak ada, tidak ada itu,” tegas Awi di Mapolda Metro Jaya, Kamis tanggal 3 November 2016. (AF).