Jayapura, Triknews.com – Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengakui terlambatnya pembangunan infrastruktur telekomunikasi di wilayah Indonesia bagian Timur, termasuk proyek Palapa Ring yang sempat molor sampai satu dekade lebih.

Tetapi alasannya, menurut Rudiantara, karena keterlambatan masyarakat dalam memilih Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia. Hal itu disampaikannya di Kantor Gubernur Papua, Jayapura, Papua, pada Kamis (23/2) kemarin.

“Memang kita harus akui sama-sama, infrastruktur telekomunikasi atau TIK di Papua itu memang terlambat, tapi mungkin juga terlambat memilih Pak Jokowi jadi presiden,” kata Rudiantara.

Proyek Palapa Ring tersebut, cikal-bakalnya berasal dari tahun 2008 di mana namanya saat itu masih Nusantara 21. Lalu pada tahun 2005, proyek itu baru digenjot. Hanya saja pembangunan jaringan serat optik itu baru dimulai tahun 2015 alias sejak Jokowi menjabat sebagai Presiden RI.

“Begitu pemerintahan Pak Jokowi, 2015 praktis kita dengan dibantu Kementerian Keuangan, PII (PT Penjamin Infrastruktur Indonesia), dan semuanya ngebut,” sambung Rudiantara.

Tidak hanya itu saja, Rudiantara juga menegaskan bahwa proyek tersebut (Palapa Ring) sudah selesai ditandatangani kontraknya. Artinya, proyek itu tidak lagi menjadi wacana saja, melainkan sudah siap diekskusi.

“Tanda tangan kontrak Palapa Ring paket timur ini sudah selesai akhir tahun kemarin di Istana. Jadi, sosialisasi ini untuk mengeksekusi, bukan akan, akan, akan,” tegasnya.

Untuk diketahui lebih lanjut, penandatanganan kontrak kerjasama (PKS) proyek tersebut telah selesai dilakukan pada tanggal 29 September 2016 lalu antara Menkominfo sendiri sebagai Penanggung Jawab Proyek Kerjasama (PJPK) dan PT Palapa Timur Telematika sebagai pemenang lelang proyek Palapa Ring Paket Timur tersebut. (AF).