Jakarta, Triknews.com – Sempat geger dengan salah satu program unggulan pasangan calon nomor urut 3, Anies Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno yakni Rumah DP 0 persen alias Rp0, kini telah terklarifikasi dengan gamblang. Bahwa program Rumah tanpa DP tersebut bukanlah bentuk rumah utuh, melainkan rusun (rumah susun).

“Jadi jangan sampai diasosiasikan ini program membuat rumah. Enggak, kami enggak buat rumah. Ini program pembiayaan. Nanti anda bisa lihat ada KPA, KPR ada macem-macem,” kata Anies Jakarta Utara, Jumat (24/2).

Dengan program Rumah DP 0 Rupiah itu, Anies akan mengambilkan dana kredit kepada Bank DKI Jakarta melalui Pemprov DKI Jakarta. Sementara warga yang ingin memiliki rumah yang dijanjikannya itu dapat mengambil kredit tersebut kepada Pemprov DKI Jakarta agar dapat ditalangi terlebih dahulu.

Sayangnya, program yang dielu-elukan tersebut disampaikan Anies Baswedan, pihaknya juga akan melakukan penyesuaian terlebih dahulu, artinya tidak bisa semua kalangan rakyat Jakarta bisa menikmati layanan program yang ditawarkannya. Karena menurut Anies, Program ini memuat kriteria warga seperti apa yang memenuhi syarat agar bisa dibantu Pemprov DKI, salah satunya dengan melihat kebiasaan menabung selama enam bulan.

Artinya jika warga bisa rutin menabung senilai Rp 2,3 juta (nominal sesuai hitungan skema ilustrasi) selama enam bulan di Bank DKI, maka kemungkinan besar bisa ikut program DP nol rupiah. Dan sebaliknya, jika tidak bisa maka warga tersebut tidak bisa mengikuti program yang sempat geger di panggung debat kandidat itu.

Selain itu pula, program Rumah DP 0 rupiah tersebut juga hanya bisa diberikan kepada warga warga yang memiliki KTP DKI Jakarta. Mereka juga harus melampirkan bukti penghasilan tiap bulan. Nantinya, program akan dibuat per gelombang, dengan jumlah penerima program yang dibatasi, misalkan maksimal 50.000 keluarga atau individu per gelombang.

Senada keras dengan calon bosnya itu, Sandiaga Salahuddin Uno juga menegaskan jika tidak mungkin Pemprov DKI Jakarta membangunkan rumah dalam wujud rumah sebenarnya di Jakarta bagi warganya. Salah satu alasannya adalah mahalnya Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) tanah di Ibukota tersebut.

Untuk itu, ia dan Anies akan fokus pada pembangunan proyek hunian warga dalam bentuk vertical house atau rumah susun.

“Kami akan fokuskan pada hunian vertikal, karena harga tanah sekarang, kita sama-sama tahu. Di beberapa tempat di Jakarta sudah tidak memungkinkan,” kata Sandi di Posko Pemenangan Melawai, Jakarta ‎Selatan, Jumat (24/2).

Dan yang jelas, Sandi menegaskan ada syarat mutlak yang harus dilakukan oleh warga yang ingin menikmati programnya itu, yakni harus bisa menabung dengan jumlah tertentu di Bank DKI Jakarta selama 6 bulan berturut-turut sebagai pengganti DP 0 rupiah yang sedang diumbarnya kepada warga DKI Jakarta.