Tanamkan Mental Paranoid Melalui Berita Hoax

Oleh Abdul Malik

Awas bahaya serbuan China terhadap Indonesia.

Awas Komunisme bangkit di Indonesia.

Awas agenda besar Syiah di Indonesia.

Awas Umat Islam terdzalimi negara yg memihak non-muslim.

Awas Umat dan ulama dalam ancaman.

Begitulah deretan narasi yang marak dan enak dibaca sembari kita abai menelusuri siapa sumbernya, dari mana asal berita, dan siapa yang menyampaikan.

Dengan judul yg sangat provokatif, agitatif & propagandis maka emosi pembaca mudah disentuh.

Pada satu kali kesempatan mungkin kita pernah mencoba menelusuri ketidak benaran berbagai isu tersebut. Tetapi konsistensi isu dan berita setiap hari serta metode penyebaran yg membuat viral akan menggeser status isu itu dari semula fiktif jadi seakan fakta.

Siapa yang sebenarnya berada dalam ancaman dan kepungan?

Siapa kelompok yang rajin menabur benih mental paranoid di tengah masyarakat ?
*Siapa yang memanfaatkan arus informasi melalui media sosial untuk menciptakan lahan subur perasaan sedang terancam, ketakutan akan serangan lawan dan posisi umat yang sedang dalam intaian. ?

Masyarakat seakan diajak untuk bersembunyi dari ancaman serangan lawan dalam kotak pengap dan gelap bernama paranoid,
masyarakat jadi buta mana sumber informasi yg benar dan akurat serta mana yg sebenarnya fitnah dan hoax.

Masyarakat dipaksa untuk menjadi takut dengan menanamkan ketakutan lewat berbagai pola serangan

sehingga menimbulkan rasa perlawanan.

Mereka akan dibiasakan dengan isu: akidah kita harus dibela, umat kita harus dibela, ulama kita perlu dibela dan seterusnya.

Pertanyaan berikutnya adalah siapa musuhnya ?

Langkah berikutnya adalah menciptakan musuh. Masyarakat diajak berjiwa militan dgn cara memproduksi “musuh” imajinatif.

Ketika musuh sudah dikonstruksi maka seolah ada sesuatu yg harus dibela dari serangan musuh Di Indonesia, mental paranoid ini justru dihujamkan pada kelompok mayoritas, katakanlah umat Muslim. Maka jadilah Syiah minoritas merupakan ancaman, Komunis yg entah di mana kembali mengancam negara, Barat mendanai kristenisasi dan berbagai narasi hoax lainnya yg memproduksi rasa militansi untuk pembedaan diri antara “kita” dan “mereka”.

Ketakutan adalah cara efektif untuk menanamkan perbedaan dan perpecahan di masyarakat.
Apakah itu efektif ?
Bagi sebagian masyarakat yang tidak suka membandingkan konten, maka pengaruh berita hoax sangat efektif dan mujarab.

Masyarakat Indonesia yang santun, ramah, tidak mudah curiga dan berprasangka buruk dipaksa masuk dalam kotak pengap bernama mental paranoid. Berita dan konten hoax adalah cara efektif menanamkan mental paranoid kepada masyarakat. Akses yang mudah, cepat, dan instan merupakan sarana efektif penyebaran hoax di dunia maya untuk menanamkan ketakutan dan kebencian terhadap yg lain. Sebenarnya harapannya bukan saja agar masyarakat mudah terpengaruh dengan berita hoax tetapi masyarakat terbiasa ikut menyebarkannya atau bahkan membiasakan diri untuk membuat berita hoax.

Apabila hoax sudah menjadi kultur subjektif dalam komunitas kultur di ruang maya, maka saling menghujat menghina, mengutuk, memfitnah dan memprovokasi akan menjadi nilai dan norma yg tanpa sadar melandasi cara bergaul di dunia maya.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk dlm berbagai aspek, mental paranoid merupakan ganjalan besar dlm pergaulan multi etnis, relijius, suku bangsa dan bahasa. Rasa ketakutan berlebihan akan menyebabkan diri selalu mengambil jarak dan mencurigai dalam pergaulan sehari-hari. Rasa takut akan selalu menimbulkan kecurigaan dan pra sangka buruk terhadap orang lain.

Yg berbeda dlm pikirannya adalah ancaman dan musuh yg harus dilawan.

Karena itulah, sesungguhnya yang harus diwaspadai dari merebaknya berita hoax di dunia maya saat ini adalah adanya upaya penanaman mental paranoid di tengah masyarakat.

Masyarakat harus diajak cerdas membaca, menangkap, dan menilai berita melalui proses filterisasi dan cek kebenaran konten dan sumber. Selanjutnya masyarakat harus mempunyai pikiran terbuka untuk tidak merasa puas dengan satu konten tertentu dan melihat dari sudut pandang berbeda.
Sumber:
http://jalandamai.org/menanamkan-mental-paranoid-melalui-berita-hoax.html