Jakarta, Triknews.com – Pasca digelarnya Pilkada DKI Jakarta putaran pertama pada 15 Februari 2017 lalu, diketahui ada dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta yang lolos ke putaran kedua, yakni Ahok-Djarot dan Anies-Sandi.

Hasil ini membuat sebagian pihak yang anti-Ahok kecewa dan harus menelan ludah. Karena ternyata Ahok yang selama ini dituding melakukan penistaan agama dan tengah diproses secara hukum, masih melenggang ke putaran selanjutnya.

Bahkan, kekecewaan itu semakin bertambah setelah diketahui calon gubernur petahana itu menempati urutan pertama dari hasil penghitungan suara real count Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Pihak-pihak yang anti Ahok pun melancarkan beragam serangan untuk menjegalnya. Salah satunya dengan membuat ancaman melalui spanduk dan poster di sejumlah masjid. Ancaman itu, salah satunya, berisi pernyataan bahwa para pengurus masjid (ustadz, ustadzah dan jamaah) tak akan mengurus jenazah (seperti tak akan mensalatkan) pihak-pihak yang menjadi simapatisan dan pemilih penista agama (Ahok).

Beberapa masjid yang diketahui memasang pengumaman semacam itu antara lain: yaitu Masjid Al-Jihad di Jalan BB 9A, Masjid Mubasysyirin di Jalan Karet Belakang Selatan 1, dan Masjid Al-Ikhlas di Jalan Karet Belakang IV. Kesemuanya berada di wilayah Karet, Setiabudi, Jakarta Selatan. Ditambah satu lagi, yakni Masjid Al-Tawwab, yang terletak di RW2, Cakung Barat, Jakarta Timur.

Menanggapi fenomena ini, Dewan Masjid Indonesia (DMI) meminta dengan tegas kepada warga dan pengelola atau pengurus masjid-masjid itu, agar tak memasang spanduk atau poster berisi ancaman seperti yang disebut tadi. Hal ini disampaikan langsung oleh Sekjen DMI, Imam Addaruqutni, kepada wartawan, hari ini, Sabtu (25/2).

“Satu, kita sarankan tidak sampai pada persoalan antara kewajiban umat Islam terhadap sesamanya. Bagi orang hidup, ada kewajiban mensalatkan orang yang meninggal, yang beragama Islam,” tegas Imam.

Tidak hanya itu saja, Imam juga meminta kepada seluruh umat Islam yang ada di Indonesia agar bisa mengedepankan nilai-nilai persaudaran, pengertian dan tabayyun.

“Perdebatan sementara yang bersifat urusan duniawi jangan dibawa ke akidah, jangan menghilangkan silaturahim,” kata Imam menambahkan.

Dalam rangka itu, maka menurut Imam, warga tak perlu memasang spanduk-spanduk semacam itu, atau ketika sudah terlanjur memasang, maka sebaiknya dicopot lagi.

“Sebaiknya spanduk-spanduk tidak usah dipasang karena itu menimbulkan ketidakutuhan di kalangan umat, sebaiknya umat mengedepankan silaturahim, sehingga lebih bersifat pembicaraan hati ke hati, juga saling tukar menukar pemahaman dalam keagamaan lebih mendalam,” tandasnya.