Oleh Sofyan RH. Zaid*

Prof. Dr. Didik J. Rachbini sebagai seorang akademisi, pengusaha, ekonom, dan politikus mengunggah sebuah foto mesin ketik tua di akun facebooknya (26/02/2017) disertai tulisan pendek:

“Saya mulai menulis kolom tahun 1982 sampai sekarang. Tidak ada komputer, tetapi dengan alat ini [mesin ketik] sangat produktif ketika itu karena semangat akademis. Jika salah di tengah dihapus dengan tipp ex atau kertas disobek. Sudah lebih seribu artikel, kolom, paper dihasilkan yang dimuat di koran, majalah, jurnal. Tidak kurang dari 30 buku sudah ditulis dgn alat kuno ini. Sekarang sudah ada alat canggih dan cepat, tapi produktifitas justru sebaliknya… mengapa…”

Status tersebut mendapatkan banyak jempol dan komentar dari teman-temannya. Terlepas dari beragamnya komentar yang ada, paling tidak ada dua hal yang menarik dari status tersebut:

Pertama, kenangan mesin ketik. Orang-orang yang aktif mengajar dan menulis sebelum tahun 2000 ke bawah pasti kenal dan akrab dengan alat tulis yang satu ini. Dari mesin ketik inilah banyak karya-karya besar lahir kemudian dicetak jadi buku. Barangkali selain manfaatnya, yang paling diingat dari mesin ketik adalah suara ketukannya. Suaranya kadang berbunyi serupa tangga lagu, atau kadang berderap seperti kuda, tergantung pada kecepatakan jari mengetik. Suara inilah barangkali yang membuat kita tidak merasa kantuk dan suntuk sehingga tahan duduk berlama-lama mengetik tulisan. Barangkali dari suara inilah juga banyak ide cemerlang berloncatan karena arus pikiran dalam otak kita deras mengalir.

Kedua, ironi kemajuan teknologi. Pada dasarkan, kemajuan teknologi merupakan hasil temuan dan kreatifitas manusia yang bertujuan memberikan kemudahan dalam hidup. Hal ini juga diakaui oleh Jaques Ellul bahwa teknologi senantiasa mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia. Sebagai orang yang hidup di zaman sekarang, kita bisa merasakan manfaat yang diberikan kemajuan teknologi. Namun dalam hal kreatifitas menulis kenapa banyak orang mengalami kemunduran produktifitas ketika mesin ketik diganti PC atau laptop? Fakta ini memaksa kita untuk curiga, barangkali kemajuan teknologi telah menghambat produktifitas kita dalam menulis. Kita lebih banyak menghabiskan waktu memegang smartphone daripada menulis karya. Kita lebih banyak membuang waktu untuk media sosial daripada membaca buku.

Status Profesor Didik tersebut membawa kita mengembara jauh ke masa lalu tentang mesin ketik sekaligus membenturkan kepala kita pada kemajuan teknologi di masa sekarang. Kita dipaksa untuk diam dan berhenti sejenak merenungkan kenyataan pahit ini. Kenyataan yang menunjukkan bahwa kita perlahan telah mulai meninggalkan kerja-kerja keabadian melalui tulisan menuju kerja-kerja kesementaraan yang bersifat seremonial. Barangkali tulisan ini pun adalah demikian. Tabik!

Jakarta, 27 Februari 2017

*Penyair dan editor, buku puisi tunggalnya Pagar Kenabian (2015) masuk 15 Nominasi Anugerah Haripuisi Indopos 2015. Kini tercatat sebagai anggota Pokja Keuangan dan Perbankan KEIN RI (Komite Ekonomi dan Industri Nasional).⁠⁠⁠⁠