Sumber: portalsemarang.com

Jakarta, Triknews.com – Tidak bisa dipungkiri, ujaran-ujaran kebencian (hate speech) yang marak disaksikan masyarakat, baik di dunia maya maupun di dunia nyata, membuat pengacara dan aktivis HAM senior, Todung Mulya Lubis, angkat suara dan menuding para elit lah yang menjadi penyebab dari merebaknya ujaran-ujaran tak etis itu.

Todung juga menilai, ujaran-ujaran keji semacam itu kerap bermunculan menjelang Pilkada maupun Pilpres yang memang disengaja disebarluaskan untuk meraih tampuk kekuasaan.

Hal ini dinyatakan Todung saat menghadiri acara peluncuran buku dan diskusi publik dengan topik ‘Penebaran Kebencian, Problem Intoleransi dan Peranan Penegak Hukum’, di Jakarta, hari ini, Senin (27/2).

“Ujaran kebencian biasanya dipicu oleh perilaku elite politik yang berupaya mencari jalan untuk mendapatkan kekuasaan,” tuding Todung.

Tidak hanya itu saja, Todung juga menyinggung bahwa merebaknya ujaran kebencian itu juga didukung oleh perkembangan teknologi informasi yang ada saat ini.

Menurut Todung, kenyataan itu merupakan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi itu. Dan, hal itu (hate speech) tidak hanya menjamur di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain di dunia.

Pada tingkat dunia, masih kata Todung, ujaran-ujaran kebencian itu berbentuk islamopohia atau kebencian tidak cukup beralasan kepada Islam yang digunakan oleh para elit politik.

Hal ini tidak bisa dilepaskan dari kampanye anti-imigran muslim yang dilakukan Donald Trump di Amerika Serikat dan sejumlah elit politik di negara-negara Eropa.

“Fenomena global Islamphobia digunakan sebagai alat kampanye politik, yang kebanyakan korbannya adalah pengungsi dari negara mayoritas muslim yang datang ke Eropa,” terangnya.

Todung juga menilai, bahwa perkembangan teknologi informasi yang ada saat ini, telah menjadi tunggangan para elit politik untuk menebarkan sentimen rasialis yang senyatanya sangat berbahaya bagi keutuhan NKRI.

“Di dunia maya, semua bisa bebas karena tidak ada polisi, hakim, dan Tuhan sekalipun. Di media sosial juga banyak perbedaan pendapat,” tandasnya.