Sumber: rimanews.com

Jakarta, Triknews.com – Setelah sebelumnya menolak saksi dari pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam kasus dugaan penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), hari ini, Selasa (28/2), tim kuasa hukum Ahok kembali menolak saksi ahli agama Islam yang diutus MUI, Rizieq Syihab, dalam sidang lanjutan keduabelas yang digelar di Gedung Kementerian Pertanian, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Alasannya, karena saksi yang dihadirkan disinyalir tidak akan memberikan keterangan atau penafsiran secara adil.

Sebelum mendengarkan kesaksian dari Rizieq, tim kuasa hukum Ahok yang diketuai oleh Trimoelja D Soerjadi terlebih dahulu membacakan pernyataan penolakan itu di depan majelis hakim.

Penolakan terhadap saksi ahli itu dibacakan oleh salah seorang pengacara Ahok, Humphrey Djemat, berdasarkan alasan-alasan yuridis yang kuat.

Misalnya, menurut pasal 179 ayat 1 KUHAP, setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran, kehakiman, atau dokter, atau ahli lainnya, wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.

“Artinya, keterangan seorang ahli didengar dalam suatu persidangan demi tercapainya keadilan hakiki dan juga demi ditemukannya kebenaran materil,” terang Djemat.

Karena itu, lanjut Humphrey, untuk menentukan layak tidaknya seseorang dijadikan sebagai saksi ahli, selain harus memperhatikan yang bersangkutan mengenai keahliannya pada bidang tertentu, maka sebelum itu harus ada penilaian terhadap subjektivitas yang bersangkutan serta latar belakang dan sikap hidupnya.

Secara lebih gamblang, bisa dinyatakan apakah saksi yang dihadirkan itu memihak atau tidak pada pihak tertentu dalam kasus yang sedang diadili di dalam persidangan. Dengan demikian, maka objektivitas akan bisa diperoleh.

Karena itu, menurut Humphrey, jika saksi ahli meberikan kesaksian yang memihak, maka konsekuensinya tidak akan mencapai keadilan yang sebenarnya.

“Di mana merupakan suatu hal yang mustahil pendapat ahli dapat membantu tercapainya keadilan yang hakiki, dalam hal pendapat tersebut didapat dari seorang ahli yang memihak, memiliki sikap hidup yang tidak baik,” tegasnya.

Masih kata Humphrey, sebenarnya di dalam berita acara pemeriksaan (BAP) terhadap saksi ahli (Habib Rizieq), telah dinyatakan secara tegas perlunya syarat-syarat terkait dengan kepribadian yang bersangkutan.

Salah satu syarat itu adalah akhlak yang baik, tujuannya baik, serta mengamalkan kandungan Alquran.

“Tentu ini berlaku juga untuk Saudara Rizieq,” pungkas Humphrey.

Dengan pernyataan ini, seolah-olah Humphrey mensinyalir bahwa pentolan Front Pembela Islam itu, tidak memiliki akhlak yang baik. (AF).