Turning Point

Beberapa hari kemarin saya mendapatkan kesempatan yang sangat langka, bertemu dengan mantan napi teroris. Ada empat orang. Dan tidak sembarang napi, beberapa diantaranya adalah aktor kelas kakap. Namun beruntungnya mereka ini tidak hanya sudah taubat dari kegiatan terorisme, tapi juga ikut aktif melakukan kampanye anti terorisme.

Mereka melakukan banyak aktivitas pasca taubat dari teroris, termasuk diantaranya ikut membantu mendampingi keluarga napi teroris (napiter), baik dari sisi psikologi maupun mendorong kemapanan ekonomi.

Salah satunya adalah Ali Fauzi, yang merupakan bungsu dari empat teroris bersaudara, Amrozy dan Muklas, keduanya sudah dieksekusi, dan Ali Imron yang masih dipenjara seumur hidup. Ali Fauzi sekarang justru mengelola sebuah yayasan perdamaian, yang melakukan upaya advokasi supaya napiter bisa diinsyafkan dan bisa kembali ke masyarakat dengan meninggalkan ideologi kekerasan yang pernah disandangnya. Termasuk juga bagaimana istri dan anak dari napiter juga bisa mendapat perhatian, sehingga tidak muncul dendam dari keluarga napiter.

Ali Fauzi pernah menjadi operator JI yang mendalangi beberapa aksi teror di Indonesia, ia punya keahlian merakit bom. Namun apa yang menjadi titik balik kenapa ia kemudian meninggalkan kelompok teror yang ia ikuti cukup lama itu?

Ada beberapa hal. Yang pertama adalah korban bom. Para pelaku teror, umumnya tidak mengetahui seberapa dampak yang akan diterima oleh para korban. Mereka hanya menjalankan aksi yang sudah diperintahkan oleh arsiteknya. Ali Fauzi begitu tertekan ketika mengetahui derita para korban bom. Dan suatu waktu sesudah insyaf ia diajak pergi ke Eropa menemui korban bom disana, ia tak kuasa menangis melihat beberapa korban bom yang kehilangan kedua kaki, kulit sekujur badan rusak. Padahal orang tersebut adalah orang baik yang kebetulan sedang bertemu kliennya ketika bom meledak. Ia memeluknya dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh.

Ali Fauzi juga tersentuh karena sikap polisi Indonesia yang memanusiakannya. Ia tertangkap di Filipina, dan disiksa habis-habisan disana. Beberapa tulang rusuknya patah, luka lebam dimana-mana. Namun begitu diserahterimakan ke Indonesia, ia diobati hingga sembuh, dan diperlakukan dengan baik.

Hal ini juga terjadi pada Nasir Abbas, yang merupakan aktor kakap JI di Asia Tenggara. Setelah ditangkap polisi, ia berniat ingin segera mati dengan menyerang polisi. Kalau ia menyerang polisi dengan sungguh-sungguh, maka ia berharap ada polisi yang menembaknya. Tapi itu tidak terjadi. Nasir sempat tersentuh ketika para polisi yang menjaganya sangat rajin menjaga sholat wajib, dan juga sebagian darinya juga rajin puasa sunnah. Ia yang tadinya menganggap semua polisi itu kafir dan layak dibunuh, kemudian lama kelamaan menyadari kekeliruannya.

Salah satu mantan lainnya adalah Yusuf yang bercerita, bahwa faktor turning point buatnya adalah keluarga. Ia merasa sangat bersalah ketika bertahun-tahun ia menipu keluarganya. Ia mengaku bekerja, padahal ia melakukan aksi, dan beberapa kali dipenjara. Ketika pulang, ia berdusta dengan mengatakan hasil kerjanya disita oleh oknum aparat. Namun suatu waktu keluarganya mengetahui bahwa ia dipenjara karena terlibat terorisme, keluarganya lah yang rajin membesuk dan mendampingi ketika dipenjara.

Manusia kadang melalui masa paling kelam dalam hidupnya. Namun yang terpenting adalah apakah manusia bisa mencari jalan keluar, dan meninggalkan masa lalunya dengan menjemput takdir baru yang lebih baik? Mereka para napiter yang sudah insyaf dan sudah menjalani hukumannya, memang seharusnya diupayakan bisa kembali berintegrasi dengan masyarakat. Mereka adalah manusia yang pernah melakukan kesalahan. Ketika mereka sudah menebus kesalahannya, dan sudah menginsyafi kesalahannya, maka kemanusiaan memanggil kita untuk memudahkan mereka kembali kepada hidup damai di negeri tercinta ini.