Novriantoni Kahar, Septa Dinata dan Ainur Rafiq Al-Amin (Foto: Detikcom)

Jakarta, Triknews.net – Sejumlah kalangan menilai Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan ide dan gagasan khilafah yang diusungnya sebagai sebuah anomali, bahkan sebagai parasit di negeri ini. Sebab HTI hendak menjungkirbalikkan Pancasila sebagai dasar negara yang sudah final dengan sistem khilafah yang mereka elu-elukan.

Menurut salah seorang dosen dari Universitas Paramadina, Novriantoni Kahar, penamaan HTI sebagai sebuah gerakan di negeri ini, menunjukkan sebuah kontradiksi tersendiri. Kontradiksi yang dimaksud oleh Novri adalah penyematan kata ‘Indonesia’ di belakang ‘Hizbut Tahrir’.

Karena bagi Novri, HT itu adalah sebuah partai politik yang sekalanya global atau transnasional. Ia melampaui sekat-sekat teritori dan garis demarkasi.

Jika memang mengklaim sebagai gerakan transnasional, lanjut Novri, maka seharusnya HTI tak perlu menyematkan kata ‘Indonesia’ di belakang ‘Hizbut Tahrir’.

“Menjadi HTI itu seperti sebuah kontradiksi, sebuah partai yang berasumsi menjadi partai global, transnasional tanpa disekati sekat-sekat bangsa yang ingin menciptakan sebuah kekhilafahan global, menyematkan sebuah kata Indonesia itu sebagai sebuah yang tidak biasa,” ujar Novri.

Pernyataan demikian disampaikan Novri saat menjadi pembicara dalam acara bedah buku ‘Membongkar Proyek Khilafah ala Hizbut Tahrir Indonesia’ karya Ainur Rofiq Al-Amin di di D’Hotel, Jl Sultang Agung, Jakarta, Selasa (30/5).

Sebagai informasi, hadir dalam acara bedah buku tersebut, Novriantoni Kahar (pembicara dan dosen dari Univ. Paramadina) dan Ainur Rofiq Al-Amin (penulis buku), serta modrator Septa Dinata (Mahasiswa Sosiologi dari Universitas Indonesia).