Ali Imron
Eks teroris di Indonesia, peledak bom Bali 1, Ali Imron. [*istimewa]

Kuningan, Triknews.net – Mantan gembong teroris di Indonesia, Ali Imron memberikan pandangan jika sebenarnya para teroris baru yang memiliki aqidah takviri (orang yang suka melabeli orang lain dengan sebutan Kafir) ini sebenarnya adalah kelompok orang yang hanya mencari pembenaran saja, bukan mencari kebenaran.

Hal ini disampaikan Ali Imron dalam sela-sela talkshow di salah satu stasiun televisi swasta, Selasa (30/5) malam tadi.

“Tapi saya lihat aqidah takviri ini adalah kenapa tho kok mereka seperti itu. Jadi mereka dalam segala hal yang dicari itu pembenaran, bukan kebenaran,” kata Ali Imron dalam sambungan teleconference di program talkshow itu.

Kemudian Ali Imron pun memberikan penjelasan tentang perbedaan pencarian pembenaran dan mencari kebenaran yang dimaksudnya itu. Jika pembenaran, Imron menyampaikan jika kelompok teroris itu hanya mencari-cari ayat atau dalil yang hanya bisa membenarkan apa yang tengah dilakukannya.

“Jadi yang dicari-cari itu adalah dalil-dalil atau alasan-alasan yang membenarkan pemikiran takviri mereka, tapi kalau mereka mencari kebenaran akan ketemu,” terang Imron.

Sementara jika teroris ini mencari kebenaran, maka aksi teror dan serangan bom bunuh diri yang biasa mereka lakukan tidak akan mungkin terlaksana. Hal ini lantaran memang ada dalil yang kuat untuk melarangan aksi teror seperti itu, jika memang mereka mencari kebenaran dalam kehidupannya.

“Bagaimana caranya kita mengkafirkan sesama muslim yang jadi anggota dewan, sedangkan dalam satu riwayat yang shahih disebutkan, bahwa orang yang punya setitik keimanan tidak akan kekal di neraka, berarti dia masih muslim. Nah kalau mereka itu cari kebenaran akan ketemu,” terangnya lagi.

Bukan hanya melarang memberikan label kafir terhadap sesama muslim, bahkan membunuh orang yang disebut sebagai kafir dzimmi alias kafir yang dilindungi menurut ajaran Islam, pun juga dilarang untuk ditumpahkan darahnya.

“Kemudian dasar selanjutnya, bagaimana kita ini bisa menghalalkan semua darah manusia, sedangkan ada hadist yang shahih, barang siapa yang membunuh kafir yang dzimmi, kafir yang dilindungi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal bau surga itu bisa dicium dengan jarak 40 tahun,” sambungnya lagi.

Dan bagi Ali Imron, jika memang para teroris itu memahami dan mencari kebenaran dalam aspek kehidupannya, maka aksi peledakan bom dan teror yang biasa terjadi tidak akan terlaksana. Namun pada dasarnya serangan itu ada, menurut Imron karena memang yang mereka cari adalah pembenarannya saja, bukanlah kebenaran.

“Kalau ini dibaca dan diteliti, tidak akan mudah kita itu punya aqidah takviri. Maka mereka (teroris) menggunakan itu, pembenaran yang dipakai bukan kebenaran. Dan inilah yang menjadi musibah bagi takviri ini,” tukasnya.