Jimly Asshiddiqie
Jimly Asshiddiqie

Kuningan, Triknews.net – Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia, Jimly Asshiddiqie mengatakan, bahwa sejatinya berdakwah adalah untuk mengajak umat atau masyarakat menuju ke jalan kebaikan. Sudah semestinya seorang ustaz memperhatikan aspek yang sangat jauh terlebih dulu sebelum memberikan tausiyah atau ceramahnya.

Hal itu dikatakan oleh Jimly menanggapi ditetapkannya pria yang mengaku sebagai ustadz bernama Alfian Tanjung sebagai tersangka dugaan kasus ujaran kebencian.

“Ulama atau ustaz harusnya mikir-mikir kalau ceramah. Berdakwah itu mengajak (kebaikan) bukan hanya menyampaikan, bukan hanya tabligh tapi harus mengajak. Kalau tabligh itu kan sepihak, kalau dakwah audiensnya lebih luas,” kata Jimly kepada wartawan di kantor DKPP, Gedung Bawsalu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (31/5).

Jimly yang juga Ketua DKPP itu khawatir bila kebebasan berbicara tidak mengormati orang lain akan menimbulkan banyak perpecahan. Ia setuju dengan proses hukum terhadap ustaz Alfian Tanjung.

“Jalan keluarnya itu hukum, satu-satunya melalui hukum. Kalau dibiarin ya itu kayak di Medsos, orang menghujat semua. Karena di Medsos orang menyembunyikan identitas maka berani. Ini kan nggak sehat untuk kehidupan yang beradab. Sekaligus para penceramah, kayak itu dididik juga cara bertutur bagaimana,” katanya.

Jimly mengimbau pihak yang dipersalahkan atas tuduhan melakukan ujaran kebencian mengikuti proses hukum yang berlaku. Dirinya menekankan dengan proses hukum akan membuktikan bahwa ceramah yang dilakukan ustaz Alfian Tanjung mengandung ujaran kebencian atau tidak.

“Harus diatur melalui pengadilan. Toh belum tentu salah dia (Alfian Tanjung -red), silakan argumennya bagaimana. Sepanjang mengenai perbedaan pendapat ilmiah ada dasar hukumnya ya nggak bisa dihalangi,” tuturnya.

“Walaupun memang harusnya diterima saja. Supaya ada keputusan, yang penting adakah di situ ujaran kebencian, ujaran fitnah. Bukan pidatonya sebagai masalah, sebagai masalah itu kalimat bernada menuduh, fitnah itu yang harus dibuktikan. Jadi jangan disebut kontrol terhadap ceramahnya tapi kalimatnya. Semua orang nggak boleh menghina orang lain, kalau ada yang terhina ya berhak mengadu,” pungkasnya.