RIAU – Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (JARI 98) mengatakan pengerusakan ratusan Baleho Presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Alat Peraga Kampanye (APK) Partai Demokrat yang dihancurkan di sepanjang Jalan Sudirman Pekanbaru Riau dilakukan oleh pihak yang tidak suka melihat hubungan baik SBY dengan Jokowi.

“Ini ada yang memanas-manasi suasana. Mereka ini tidak suka melihat hubungan baik Jokowi dan SBY,” tegas Sekjen Jari 98 Ferry Supriyadi, hari ini.

“Jangan-jangan ada operasi senyap pembusukan untuk ganggu hubungan antara Jokowi dan SBY, awas operasi adu domba,” tuturnya lagi.

Lebih lanjut, Ferry menduga pihak yang tidak menyukai hubungan baik antara Jokowi dan SBY kemungkinan dari kalangan internal Demokrat maupun eksternal.

“Ini kan tahun politik, strategi apapun bisa dilakukan untuk memecah belah. Bisa jadi kan di internalnya panas melihat hubungan baik antara Jokowi dan SBY. Rumah sebelah apalagi,” tuturnya.

Ferry juga mendapatkan informasi bahwa pengerusakan APK tidak hanya milik Partai Demokrat saja melainkan APK Partai Koalisi sempat akan dirusak dan dicabut.

“APK Partai Koalisi katanya juga sempat dicabut dan dirusak. Tapi berhasil dihalau karena ada penjagaan,” katanya.

Ferry menyayangkan aksi pengerusakan tersebut padahal kader Demokrat akan menyambut Ketum Demokrat itu di Riau dalam rangka agenda konsolidasi Pemilu.

“Bukannya penempatan APK di Jalan Protokol tidak diperbolehkan. Satpol PP Pekanbaru infonya pernah dimarahi oleh Partai Demokrat,” ujarnya.

Lebih jauh, Ferry memprediksi motif dibalik pengerusakan APK ini lantaran gagal memprovokasi masyarakat Riau yang ingin mencoba melakukan aksi penolakan pemberian gelar kehormatan kepada Presiden Jokowi. Mereka memanfaatkan mahasiswa Riau di Jakarta, namun upaya tersebut dinilai gagal total. Terlebih, kata dia, beberapa waktu sebelumnya Cawapres No Urut 02 mengunjungi asrama mahasiswa Riau.

“Jadi masyarakat Riau jangan terprovokasi dengan peristiwa-peristiwa yang tiba-tiba menghebohkan tersebut,” ucap Ferry.

Oleh karenanya, Ferry mengimbau kepada masyarakat Riau untuk tidak terprovokasi dengan permainan ini. Kata dia, bisa saja mereka sedang memainkan sandiwara atau playing victim. Setelah heboh, nanti akan muncul pengakuan orang yang tertangkap itu disuruh oleh Partai Pendukung Jokowi.

“Sehingga makin bencilah rakyat pada Jokowi dan partai pendukungnya. Ini semua bisa saja sebuah settingan. Tahun politik, waspadai politik adu domba dan sandiwara politik alias playing victim. Masyarakat Riau hati-hati terhadap provokasi ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, Pemprov Riau serta Bawaslu dan KPU setempat menyepakati areal jalan protokol tidak boleh dipasangi berbagai atribut atau APK Pemilu 2019.

“Kesepakatan itu didapat dari hasil rapat bersama yang kami gelar tentang teknis pelaksanaan kampanye Pemilu tahun 2019,” kata Ketua Bawaslu Riau Rusidi Rusdan di Pekanbar, Selasa (9/10/2018).

Rapat tersebut dihadiri Ketua Bawaslu Riau Rusidi Rusdan, Ketua KPU Riau Nurhamin dan Anggota, 16 Parpol, Kepala Sub Direktorat Intelkam Polda Riau, Kepala Kesbangpol Prov Riau, dan Calon Anggota DPD. Sehingga jumlah peserta rapat berjumlah 40 orang lebih.