Jakarta, Triknews.com – Massa aksi 31 Maret atau 313 berencana menemui Presiden Joko Widodo untuk menanyakan alasan Basuki Tjahaja Purnama tidak diberhentikan sebagai gubernur DKI dan tidak ditahan sebagai terdakwa penistaan agama.

Pasalnya, demo tersebut diinisiasi oleh Forum Umat Islam (FUI) pimpinan Al Khathathath. Kendati demikian, basis massa Islam lainnya nampaknya masih belum solid untuk ikut serta dalam aksi tersebut.

Seperti halnya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) seperti suara akar rumput dan petinggi terbelah suaranya. Demikian kutipan penelusuran redaksi Triknews.com saat mengkonfirmasi petinggi dan akar rumputnya.

Juru bicara HTI Ismail Yusanto mengatakan pihaknya kemungkinan akan turut serta didalam aksi 313 nanti didepan Istana.

“Insya allah teman-teman dari HTI ikut serta,” kata Ismail, Kamis (30/3).

Sementara itu suara akar rumput HTI menegaskan tidak akan ikutan aksi bersama Al Khathathath nanti.

“Tidak mas,” kata Ustadz Derry dari HTI Tenabang.

Hal senada juga dilontarkan aktivis HTI lainnya yang enggan disebutkan namanya (TA) juga menyatakan tidak ada instruksi turun aksi.

“Setahu saya tidak ikut, belum ada instruksi,” terang TA.

Redaksi pun menelusuri alasan akar rumput tidak ikut serta dalam aksi nanti, apakah lantaran Al Khathathath yang pernah satu atap bersama HTI namun akhirnya jadi kutu loncat ke FUI.

Mengenai ketidakikutsertaan tidak ada keterkaitan hubungan kutu loncat tersebut, namun TA mengakui bahwa Al Khathathath pernah satu naungan di HTI.

“Iya pernah. Setahu saya itu pilihan beliau aja, seseorang masuk bergabung atau keluar dari HTI itu hal yang biasa,” bebernya.

Dikatakan dia, justru karena perbedaan paham (pemikiran). Karena HTI itu adalah partai politik, mengharuskan semua anggotanya memiliki pemahaman/pemikiran yang sama.

“HTI itu partai politik. Di dalamnya ada ide-ide pemikiran yang diambil sebagai pemahaman partai, dan ide-ide ini juga harus diambil oleh semua anggota partai. Agar perjuangan partai satu tujuan, satu visi dan misi,” paparnya.

Masih kata TA, dari ide-ide pemikiran tersebut mungkin ada satu atau lebih ide Sekjen FUI itu tidak sependapat.

“Saya tidak tahu ide yang mana beliau tidak sependapat. Karena perbedaan ide inilah maka beliau memilih untuk keluar dari partai,” tandasnya.